jika masih mungkin...aq bisa melihat sejumlah daun hijau di pucuk pokok cemara sebelum aku tiba pada sebuah titik dimana aku tak mungkin dapat kembali lagi...
selama isi blog ini berguna bagi anda maka silakan gunakan demi kebaikan...
Sabtu, 28 Juni 2014
Selasa, 30 Oktober 2012
one piece
one piece...
serial anime favoritku...
dalam 2 bulan kedepan..
anda bisa mendapatkan link download mediafire terlengkap untuk eps 01 - 570...
format : mkv, 60 mb, dub japanesse, sub-english....
serial anime favoritku...
dalam 2 bulan kedepan..
anda bisa mendapatkan link download mediafire terlengkap untuk eps 01 - 570...
format : mkv, 60 mb, dub japanesse, sub-english....
Rabu, 26 September 2012
Tentang Iklan
Selasa, 19 Juni 2012
EKONOMI POLITIK RADIO (kota kendari)
Senin, 16 April 2012
Senin, 09 April 2012
chapter 3 : black heart
running isn`t my style,..
even my evil can`t stand a chance with her,...
i know, she still waiting for me,..waiting for fill my heart with a thousand white sand and stab my back until i die,...
what am i suppose to do ???
love is always like a hurricane...( koi wa ikitemo a hurricane ).
even my evil can`t stand a chance with her,...
i know, she still waiting for me,..waiting for fill my heart with a thousand white sand and stab my back until i die,...
what am i suppose to do ???
love is always like a hurricane...( koi wa ikitemo a hurricane ).
Sabtu, 07 April 2012
chapter 2 : last remnant
don`t be suck a dick,..you would never know that bad thing is going to happen...
when i see her real face,..like a thousand huge rock hitting my back and i cant release my true power,...
suddenly,..my evil is folding a paper with his bare hand....he took me into that "bird"...flied away to her.....
we live today to fight another day....
when i see her real face,..like a thousand huge rock hitting my back and i cant release my true power,...
suddenly,..my evil is folding a paper with his bare hand....he took me into that "bird"...flied away to her.....
we live today to fight another day....
Sabtu, 24 Maret 2012
Speak up the devil
there is something i have to do by my self,...everything i touch was nullfied..
when my friend ask me about my hand,..i can tell anyone the reason...
when my friend ask me about my hand,..i can tell anyone the reason...
Kamis, 15 Maret 2012
Lebih Dari Sekedar Asa
seperti hari-hari sebelumnya,..aku masih saja tak berani bertatap muka dengannya. sorot matanya yang selalu sayup membuatku penasaran. apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya???...
tapi satu hal yang pasti....!!!
dewa kematian sedang duduk disampingnya...
tapi satu hal yang pasti....!!!
dewa kematian sedang duduk disampingnya...
Senin, 09 Januari 2012
contoh iklan perusahaan - media relation final test
IKLAN PERUSAHAAN
PT .METE JAYA SULTRA
(originaly picture by shiroyuki no susanto)
Perusahaan ini bergerak di bidang pengolahan jambu mete. Komoditi jambu mete di Sulawesi tenggara mempunyai potensi yang sangat besar. Kawasan yang sangat cocok untuk ditanami komoditi ini terdapat di beberapa daerah yakni kendari, bau-bau dan muna.
Sejak berdirinya perusahaan ini, mereka mencoba untuk melakukan produksi secara besar – besaran dengan mengumpulkan para petani jambu mete se sultra untuk secara rutin mendistribusikan hasil tanamnya kepada PT. METE JAYA SULTRA. Hal ini di tanggapi baik oleh para petani, dan akhirnya pada pembukaan tahun 2010 PT. Mete jaya Sultra melakukan suatu perubahan produk mete. Dengan sedikit inovasi dan kreasi, mereka meluncurkan produk mete sebagai bahan setengah jadi untuk konsumen.
Pengemasan yang praktis dengan kisaran harga perkilonya mencapai Rp. 50.000 membuat para konsumen merasa puas. Ekspansi inipun dilakukan hingga produk – produk itu mulai dijual secara online pada situs jual beli hingga pendirian stand/toko di jalur By Pass Kendari.
CONTACT PERSON: INDRA AGUS SUSANTO (082194725640) tidak melayani SMS.
PT .METE JAYA SULTRA
(originaly picture by shiroyuki no susanto)
Perusahaan ini bergerak di bidang pengolahan jambu mete. Komoditi jambu mete di Sulawesi tenggara mempunyai potensi yang sangat besar. Kawasan yang sangat cocok untuk ditanami komoditi ini terdapat di beberapa daerah yakni kendari, bau-bau dan muna.
Sejak berdirinya perusahaan ini, mereka mencoba untuk melakukan produksi secara besar – besaran dengan mengumpulkan para petani jambu mete se sultra untuk secara rutin mendistribusikan hasil tanamnya kepada PT. METE JAYA SULTRA. Hal ini di tanggapi baik oleh para petani, dan akhirnya pada pembukaan tahun 2010 PT. Mete jaya Sultra melakukan suatu perubahan produk mete. Dengan sedikit inovasi dan kreasi, mereka meluncurkan produk mete sebagai bahan setengah jadi untuk konsumen.
Pengemasan yang praktis dengan kisaran harga perkilonya mencapai Rp. 50.000 membuat para konsumen merasa puas. Ekspansi inipun dilakukan hingga produk – produk itu mulai dijual secara online pada situs jual beli hingga pendirian stand/toko di jalur By Pass Kendari.
CONTACT PERSON: INDRA AGUS SUSANTO (082194725640) tidak melayani SMS.
contoh press release - media relation final test
Press Release
1^st Aniversary of Movie Maker Community
(Pagelaran Film Pendek Karya Anak Bangsa).
Film pendek merupakan primadona bagi para pembuat film indepeden. Selain dapat diraih dengan biaya yang relatif lebih murah dari film cerita panjang, film pendek juga memberikan ruang gerak ekspresi yang lebih leluasa. Meski tidak sedikit juga pembuat film yang hanya menganggapnya sebagai sebuah batu loncatan menuju film cerita panjang.
Film pendek pada hakikatnya bukanlah sebuah reduksi dari film cerita panjang, ataupun sekedar wahana pelatihan belaka. Film pendek memiliki karakteristiknya sendiri yang berbeda dengan film cerita panjang, bukan lebih sempit dalam pemaknaan, atau bukan lebih mudah. Sebagai analogi, dalam dunia sastra, seorang penulis cerpen yang baik belum tentu dapat menulis cerpen dengan baik; begitu juga sebaliknya, seorang penulis novel, belum tentu dapat memahami cara penuturan simpleks dari sebuah cerpen.
Sebagai sebuah media ekspresi, film pendek selalu termarjinalisasi –dari sudut pandang pemirsa- karena tidak mendapatkan media distribusi dan eksibisi yang pantas seperti yang didapatkan cerpen di dunia sastra.
“BERSYUKUR”, adalah pesan utama yang kedepannya ingin disebarkan L.A LIGHT dan MMC kepada semua orang diseluruh Indonesia, dan bahkan dunia. Kami percaya bahwa pesan ini setidaknya akan mendorong fikiran dan tindakan lebih lanjut, dari kita semua yang bervisi sama, dalam berkreativitas membuat sinema-sinema yang tak kalah dengan produksi asing,
Secara teknis, film pendek merupakan film-film yang memiliki durasi dibawah 50 menit (Derek Hill dalam Gotot Prakosa, 1997) . Meskipun banyak batasan lain yang muncul dari berbagai pihak lain di dunia, akan tetapi batasan teknis ini lebih banyak dipegang secara konvensi. Mengenai cara bertuturnya, film pendek memberikan kebebasan bagi para pembuat dan pemirsanya, sehingga bentuknya menjadi sangat bervariasi. Film pendek dapat saja hanya berdurasi 60 detik, yang penting ide dan pemanfaatan media komunikasinya dapat berlangsung efektif. Yang menjadi menarik justru ketika variasi-variasi tersebut menciptakan cara pandang-cara pandang baru tentang bentuk film secara umum, dan kemudian berhasil memberikan banyak sekali kontribusi bagi perkembangan sinema.
Untuk itulah MMC bekerjasama dengan L.A LIGHT mengadakan pagelaran film pendek karya anak bangsa.
Akhirnya acara hari ulang tahun movie maker community yang pertama ini akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat luas melalui sebuah suguhan pagelaran film pendek karya anak bangsa. Pagelaran ini merupakan kumpulan karya terbaik dari para sineas muda Indonesia.
Untuk itulah kami mengundang para sahabat media & masyarakat umum untuk menghadiri acara.
1^st aniversary of Movie maker community (pagelaran film pendek karya anak bangsa).
@ Auditorium mokodompit hall, Universitas haluoleo. Kompleks bumi praja anduonohu, Kendari
Sabtu, 23 Desember 2011 Pukul: 09.00 Wib.
Opening Performance: Breakdance and zhifillia band
Kami tunggu kehadirannya. Salam.
INFO LANJUT
APC Institute
MMC Community
jalan Bunga Tanjung No. 36. Kendari
telepon 0401-87242729 / 70160771
contact person: Indra agus susanto (0852-92347207)
mmc_kendari@yahoo.com
www.filmpendek.wordpress.com
follow us on twitter @ MMC_Kendari
1^st Aniversary of Movie Maker Community
(Pagelaran Film Pendek Karya Anak Bangsa).
Film pendek merupakan primadona bagi para pembuat film indepeden. Selain dapat diraih dengan biaya yang relatif lebih murah dari film cerita panjang, film pendek juga memberikan ruang gerak ekspresi yang lebih leluasa. Meski tidak sedikit juga pembuat film yang hanya menganggapnya sebagai sebuah batu loncatan menuju film cerita panjang.
Film pendek pada hakikatnya bukanlah sebuah reduksi dari film cerita panjang, ataupun sekedar wahana pelatihan belaka. Film pendek memiliki karakteristiknya sendiri yang berbeda dengan film cerita panjang, bukan lebih sempit dalam pemaknaan, atau bukan lebih mudah. Sebagai analogi, dalam dunia sastra, seorang penulis cerpen yang baik belum tentu dapat menulis cerpen dengan baik; begitu juga sebaliknya, seorang penulis novel, belum tentu dapat memahami cara penuturan simpleks dari sebuah cerpen.
Sebagai sebuah media ekspresi, film pendek selalu termarjinalisasi –dari sudut pandang pemirsa- karena tidak mendapatkan media distribusi dan eksibisi yang pantas seperti yang didapatkan cerpen di dunia sastra.
“BERSYUKUR”, adalah pesan utama yang kedepannya ingin disebarkan L.A LIGHT dan MMC kepada semua orang diseluruh Indonesia, dan bahkan dunia. Kami percaya bahwa pesan ini setidaknya akan mendorong fikiran dan tindakan lebih lanjut, dari kita semua yang bervisi sama, dalam berkreativitas membuat sinema-sinema yang tak kalah dengan produksi asing,
Secara teknis, film pendek merupakan film-film yang memiliki durasi dibawah 50 menit (Derek Hill dalam Gotot Prakosa, 1997) . Meskipun banyak batasan lain yang muncul dari berbagai pihak lain di dunia, akan tetapi batasan teknis ini lebih banyak dipegang secara konvensi. Mengenai cara bertuturnya, film pendek memberikan kebebasan bagi para pembuat dan pemirsanya, sehingga bentuknya menjadi sangat bervariasi. Film pendek dapat saja hanya berdurasi 60 detik, yang penting ide dan pemanfaatan media komunikasinya dapat berlangsung efektif. Yang menjadi menarik justru ketika variasi-variasi tersebut menciptakan cara pandang-cara pandang baru tentang bentuk film secara umum, dan kemudian berhasil memberikan banyak sekali kontribusi bagi perkembangan sinema.
Untuk itulah MMC bekerjasama dengan L.A LIGHT mengadakan pagelaran film pendek karya anak bangsa.
Akhirnya acara hari ulang tahun movie maker community yang pertama ini akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat luas melalui sebuah suguhan pagelaran film pendek karya anak bangsa. Pagelaran ini merupakan kumpulan karya terbaik dari para sineas muda Indonesia.
Untuk itulah kami mengundang para sahabat media & masyarakat umum untuk menghadiri acara.
1^st aniversary of Movie maker community (pagelaran film pendek karya anak bangsa).
@ Auditorium mokodompit hall, Universitas haluoleo. Kompleks bumi praja anduonohu, Kendari
Sabtu, 23 Desember 2011 Pukul: 09.00 Wib.
Opening Performance: Breakdance and zhifillia band
Kami tunggu kehadirannya. Salam.
INFO LANJUT
APC Institute
MMC Community
jalan Bunga Tanjung No. 36. Kendari
telepon 0401-87242729 / 70160771
contact person: Indra agus susanto (0852-92347207)
mmc_kendari@yahoo.com
www.filmpendek.wordpress.com
follow us on twitter @ MMC_Kendari
Rabu, 12 Oktober 2011
contoh model penelitian kuantitatif ( bab 1 Pendahuluan ): studi tentang fungsi dan peran radio swara pendidikan 95.6 FM
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Informasi tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan baik. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna, lebih berarti dan bermanfaat bagi penggunanya.
Data menggambarkan kenyataan suatu kejadian dan kesatuan yang nyata. Data dapat diartikan pula sebagai representasi dunia nyata yang mewakili suatu objek tertentu seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan dan lain-lain, yang direkam kedalam bentuk angka, huruf, simbol, teks, gambar, bunyi atau kombinasinya.
Sebelum menjadi informasi, data yang berkualitas, kemudian diolah melalui suatu model untuk menghasilkan informasi. Model yang digunakan untuk mengolah data tersebut disebut model pengolahan data atau dikenal dengan siklus pengolahan data (siklus informasi).
Menurut Gordon B. Davis, informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan dating
Penulis lain, Burch dan Strater, menyatakan: informasi adalah pengumpulan atau pengolahan data untuk memberikan pengetahuan atau keterangan.
Sedangkan George R. Terry, Ph. D. menyatakan bahwa informasi adalah data yang penting yang memberikan pengetahuan yang berguna.
Jadi, secara umum informasi adalah data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang.
Informasi menjadi kebutuhan pokok bagi pengguna tertentu, sehingga jika kebutuhan informasinya tidak terpenuhi akan menjadi masalah bagi pengguna. Informasi dibutuhkan pengguna bertujuan untuk menambah pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan yang pada akhirnya dapat merubah sikap dan perilakunya.
Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen danmudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang.
Teori peluru ini merupakan konsep awal sebagai effek komunikasi massa yang oleh para teoritis komunikasi tahun 1970 an dinamakan pula hypodermic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori jarum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950 an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”. Wilbur Schramm pada tahun 1950 an itu mengatakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya. Tetapi pada tahun 1970 an Scrhamm meminta pada khalayak peminatnya agar teori peluru komunikasi itu tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Model magig bullet theory atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori ini tidak jauh berbeda dengan model SOR, yakni bahwa media secara langsung dan cepat memiliki efek yang kuat tehadap komunikan.
salah satu media yang memberikan informasi secara bebas yaitu radio. Disulawesi tenggara terdapat radio swara pendidikan 95,6 FM
Radio ini memiliki beberapa program yang dikhususkan untuk member informasi kepada khalayak.
1. 2. Rumusan masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang diatas terdiri dari:
1. Bagaimana proses pengolahan informasi yang dilakukan oleh radio swara pendidikan 95.6 FM ?
2. Bagaimana fungsi radi swara pendidikan 95.6 FM sebagai media masyarakat ?
3. Program program apakah yang ada pada radio swra pendidikan 9.6 FM ?
1. 3. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
1. Mengetahui proses pengolahan informasi pada radio swara pendidikan 95.6 FM
2.mengetahui fungsi radio swara pendidikan 95.6 FM sebagai media informasi masyarakat.
3.mengetahui program program apakah yang ada pada radio tersebut.
1. 4. Manfaat
a. Aspek teoritis
Dapat dipergunakan sebagai acuan untuk pembelajaran tentang bagaimana media itu mengolah informasinya sebelum disebarkan kepada khalayak.
b. Metodologis
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian yang selanjutnya.
makalah media relation: studi tentang latar belakang konflik dan penyelesaiannya
BAB I
PENDAHULUAN
A. latar belakang
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
B. rumusan masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. bagaimana pandangan konflik menurut para ahli.?
2. factor yang melatarbelakangi terjadinya konflik ?
3. jenis jenis konflik?
4. apa saja akibat dari konflik ?
5. bagaimana menyelesaikan maslah konflik yang terjadi di lingkungan kampus?
C. tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untu mengetahui tentang bagaimana proses terjadinya konflik sehingga kita dapat menyelesaikan konlik dengan cara mengurai maslah awal penyebab konflik itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pandangan Konflik Menurut Para Ahli
Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.
1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
6. Robbin (1996: 431) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:
a. Pandangan tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di antara orang – orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.
b. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
c. Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.
7. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
8. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).
9. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341).
10. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito, 1995:381)
B. Factor Yang Melatar Belakangi Terjadinya Konflik
• Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
• Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
• Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan.
Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
• Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
C. Jenis – Jenis Konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
• konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
• Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
• Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
• Koonflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
• Konflik antar atau tidak antar agama
• Konflik antar politik.
D. Akibat Konflik
Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
• meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
• keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
• perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
• kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
• dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
E. penyelesaian konflik
1. Terjemahkan apa yang sebenarnya Anda inginkan
Saat perdebatan dengan teman, kakak, rekan kerja, atau siapapun, dan suasana makin panas, Anda akan mudah sekali terbawa emosi. Bukan saat yang tepat untuk bernegosiasi untuk mencari solusi bersama. Berhentilah untuk selalu berusaha memecahkan segala macam persoalan. Hentikan perdebatan, lalu mulai tuliskan perasaan Anda, atau cari teman yang dipercaya untuk mendengarkan masalah Anda. Intinya, cara ini membantu Anda memikirkan hasil atau solusi yang paling tepat. Mengambil keputusan saat pikiran dikuasai amarah hanya akan membuat Anda mencari-cari alasan pembenaran dan menyalahkan orang lain.
2. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi
Ketika Anda sudah mengontrol pikiran Anda dengan lebih tenang, Anda akan lebih mudah menghadapi orang lain. Jangan sekali-kali berasumsi bahwa Anda tahu betul sumber masalahnya berdasarkan apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain. Cari tahu sumber masalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data dan fakta sebelum mulai membicarakan solusi. Misalkan, pasangan Anda kesal karena tagihan membludak akibat belanja keperluan rumah tangga. Daripada membalas dengan bentakan dan amarah, lebih baik tanyakan apa yang membuat ia kesal dengan anggaran yang sudah Anda buat. Apakah menurutnya Anda belanja lebih banyak darinya? Apakah Anda harus melakukan pengurangan, atau memang penggunaan uang harus diperketat? Lakukan riset kecil-kecilan, bandingkan dengan pengeluaran rumah tangga pada umumnya (dengan standar tertentu), lalu diskusikan perbandingan tersebut dengan keluhan suami. Berusaha memahami posisi orang lain (lawan bicara) akan memudahkan Anda untuk mencari solusi bersama.
3. Tetapkan bentuk proses negosiasi
Jika pikiran sudah tenang dan terkontrol, tentukan kepada siapa Anda ingin bicara dan menegosiasikan masalah, kapan dan dimana tempat yang paling tepat. Persiapan ini penting untuk menciptakan kenyamanan bagi kedua belah pihak yang berseteru. Siapkan juga alur pembicaraan dan agendanya, sepakati bersama siapa yang memulai pembicaraan. Siapkan waktu khusus untuk menyelesaikan masalah. Hal ini untuk menunjukkan itikad baik Anda.
4. Sampaikan pesan yang tepat
Mulailah berdiskusi untuk mencari solusi dengan memunculkan sejumlah saran dan ide. Tunjukkan bahwa Anda mempunyai niat serius untuk memperbaiki keadaan. Katakan juga bahwa niat baik ini adalah untuk mencari solusi yang bisa disepakati dan dijalankan untuk kebaikan bersama. Tak cukup hanya dengan ucapan, Anda juga harus menyelesaikan masalah dengan menunjukkan perilaku yang mendukung ke arah positif. Sikap tubuh yang keliru, yang menunjukkan emosi, bisa memperkeruh suasana.
6. Negosiasi
Saat Anda memulai bernegosiasi untuk mencari solusi, kontrol diri Anda. Jangan memotong pembicaraan; bicaralah saat sudah giliran Anda. Respons pernyataan lawan bicara dengan tenang. Tarik nafas, dan berikan jeda beberapa detik untuk menjawabnya. Kontrol diri sangat penting agar solusi bisa ditemukan dengan pikiran yang tenang dan bukan emosi.
Jika semua cara ini sudah dicoba, namun masih juga belum menemukan penyelesaian, mediasi menjadi langkah selanjutnya. Anda membutuhkan bantuan dari pakar atau dari pihak ketiga yang mampu menetralkan suasana. Bisa teman yang dipercaya kedua belah pihak, seperti keluarga, kolega, atau jika ingin lebih efektif, cari pakarnya. Pakar profesional lebih memahami teknik mendamaikan pihak berseteru. Ini lebih baik daripada mendiamkan masalah dan menumbuhkannya menjadi energi negatif.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari masalah diatas yaitu:
1. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alas an
2. perbedaan adalah factor utama dalam proses terjadinya konflik
3. etelah mengetahui arti dari konflik, penyebab, gejala-gejala serta tipe konflik, bagaimana respon kita terhadap konflik. Jika respon kita terbuka dan pasif maka yang ditimbulkan: menyangka/mengomel, mendebat, mogok, demonstrasi, mengancam dan memberontak. Tapi kalaurespon kita terbuka dan aktif maka yang ditimbulkan: protes, mendebat, berkelahi, tidak setuju, menghina, memberontak, mengancam dan menyatakan perang.
Daftar Pustaka
http://download182.slideshare.net/item/journal/konflik+sebuah++persepsi.pdf
http://scribd.com/download/193234-apaitukomflik.doc
http://undiksha.ac.id/images/img_item/670.doc
http://wikipedia.org/konflik.html
PENDAHULUAN
A. latar belakang
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
B. rumusan masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. bagaimana pandangan konflik menurut para ahli.?
2. factor yang melatarbelakangi terjadinya konflik ?
3. jenis jenis konflik?
4. apa saja akibat dari konflik ?
5. bagaimana menyelesaikan maslah konflik yang terjadi di lingkungan kampus?
C. tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untu mengetahui tentang bagaimana proses terjadinya konflik sehingga kita dapat menyelesaikan konlik dengan cara mengurai maslah awal penyebab konflik itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pandangan Konflik Menurut Para Ahli
Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.
1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
6. Robbin (1996: 431) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:
a. Pandangan tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di antara orang – orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.
b. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
c. Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.
7. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
8. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).
9. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341).
10. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito, 1995:381)
B. Factor Yang Melatar Belakangi Terjadinya Konflik
• Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
• Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
• Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan.
Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
• Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
C. Jenis – Jenis Konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
• konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
• Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
• Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
• Koonflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
• Konflik antar atau tidak antar agama
• Konflik antar politik.
D. Akibat Konflik
Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
• meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
• keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
• perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
• kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
• dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
E. penyelesaian konflik
1. Terjemahkan apa yang sebenarnya Anda inginkan
Saat perdebatan dengan teman, kakak, rekan kerja, atau siapapun, dan suasana makin panas, Anda akan mudah sekali terbawa emosi. Bukan saat yang tepat untuk bernegosiasi untuk mencari solusi bersama. Berhentilah untuk selalu berusaha memecahkan segala macam persoalan. Hentikan perdebatan, lalu mulai tuliskan perasaan Anda, atau cari teman yang dipercaya untuk mendengarkan masalah Anda. Intinya, cara ini membantu Anda memikirkan hasil atau solusi yang paling tepat. Mengambil keputusan saat pikiran dikuasai amarah hanya akan membuat Anda mencari-cari alasan pembenaran dan menyalahkan orang lain.
2. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi
Ketika Anda sudah mengontrol pikiran Anda dengan lebih tenang, Anda akan lebih mudah menghadapi orang lain. Jangan sekali-kali berasumsi bahwa Anda tahu betul sumber masalahnya berdasarkan apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain. Cari tahu sumber masalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data dan fakta sebelum mulai membicarakan solusi. Misalkan, pasangan Anda kesal karena tagihan membludak akibat belanja keperluan rumah tangga. Daripada membalas dengan bentakan dan amarah, lebih baik tanyakan apa yang membuat ia kesal dengan anggaran yang sudah Anda buat. Apakah menurutnya Anda belanja lebih banyak darinya? Apakah Anda harus melakukan pengurangan, atau memang penggunaan uang harus diperketat? Lakukan riset kecil-kecilan, bandingkan dengan pengeluaran rumah tangga pada umumnya (dengan standar tertentu), lalu diskusikan perbandingan tersebut dengan keluhan suami. Berusaha memahami posisi orang lain (lawan bicara) akan memudahkan Anda untuk mencari solusi bersama.
3. Tetapkan bentuk proses negosiasi
Jika pikiran sudah tenang dan terkontrol, tentukan kepada siapa Anda ingin bicara dan menegosiasikan masalah, kapan dan dimana tempat yang paling tepat. Persiapan ini penting untuk menciptakan kenyamanan bagi kedua belah pihak yang berseteru. Siapkan juga alur pembicaraan dan agendanya, sepakati bersama siapa yang memulai pembicaraan. Siapkan waktu khusus untuk menyelesaikan masalah. Hal ini untuk menunjukkan itikad baik Anda.
4. Sampaikan pesan yang tepat
Mulailah berdiskusi untuk mencari solusi dengan memunculkan sejumlah saran dan ide. Tunjukkan bahwa Anda mempunyai niat serius untuk memperbaiki keadaan. Katakan juga bahwa niat baik ini adalah untuk mencari solusi yang bisa disepakati dan dijalankan untuk kebaikan bersama. Tak cukup hanya dengan ucapan, Anda juga harus menyelesaikan masalah dengan menunjukkan perilaku yang mendukung ke arah positif. Sikap tubuh yang keliru, yang menunjukkan emosi, bisa memperkeruh suasana.
6. Negosiasi
Saat Anda memulai bernegosiasi untuk mencari solusi, kontrol diri Anda. Jangan memotong pembicaraan; bicaralah saat sudah giliran Anda. Respons pernyataan lawan bicara dengan tenang. Tarik nafas, dan berikan jeda beberapa detik untuk menjawabnya. Kontrol diri sangat penting agar solusi bisa ditemukan dengan pikiran yang tenang dan bukan emosi.
Jika semua cara ini sudah dicoba, namun masih juga belum menemukan penyelesaian, mediasi menjadi langkah selanjutnya. Anda membutuhkan bantuan dari pakar atau dari pihak ketiga yang mampu menetralkan suasana. Bisa teman yang dipercaya kedua belah pihak, seperti keluarga, kolega, atau jika ingin lebih efektif, cari pakarnya. Pakar profesional lebih memahami teknik mendamaikan pihak berseteru. Ini lebih baik daripada mendiamkan masalah dan menumbuhkannya menjadi energi negatif.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari masalah diatas yaitu:
1. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alas an
2. perbedaan adalah factor utama dalam proses terjadinya konflik
3. etelah mengetahui arti dari konflik, penyebab, gejala-gejala serta tipe konflik, bagaimana respon kita terhadap konflik. Jika respon kita terbuka dan pasif maka yang ditimbulkan: menyangka/mengomel, mendebat, mogok, demonstrasi, mengancam dan memberontak. Tapi kalaurespon kita terbuka dan aktif maka yang ditimbulkan: protes, mendebat, berkelahi, tidak setuju, menghina, memberontak, mengancam dan menyatakan perang.
Daftar Pustaka
http://download182.slideshare.net/item/journal/konflik+sebuah++persepsi.pdf
http://scribd.com/download/193234-apaitukomflik.doc
http://undiksha.ac.id/images/img_item/670.doc
http://wikipedia.org/konflik.html
Selasa, 16 Agustus 2011
Minggu, 15 Mei 2011
Strategies for Personal Development
So far we have considered, in relation to influences on personal development in adulthood, some specific strategies for improving communication effectiveness. It is now time to review in broad terms practical ways to refine our competence in communication management. By becoming more competent in managing their communication with others, people can contribute significantly to their personal development and growth in adulthood.
Since communication, like breathing, is an inevitable part of being alive, the first step in developing a strategy for effective personal development is to ensure that any human activity involving one’s self and its relationship to others is conceptualized from an adult communication management perspective. This applied theoretical perspective is a synthesis of the constructivist, the people-in-systems, and the competence contributing perspective (Kaye, 1994). Some of the key question to ask at any significant point in one’s life, to assess the effectiveness of one’s communication, are: ’Am I understanding others in the ways they intend me to understand them?’, ’Am I being understood by others in the ways I intend them to understand me?’ and ’Are these the appropriate ways for me to communication with and relate to others in these kinds of specific situations?’
In some respects, these three questions subsume other, more specific, question people might ask themselves when appraising their effectiveness as communicators. One such specific question might be: ‘If I am not as handling my present crisis too well, is it affecting my communication and relationship with significant people in my life?’ Assuming the answer is ‘yes’, we could then ask: ‘ What can I do to restore the good communication I had with those who are important to me?’
One of the great stumbling-blocks to effective personal development as an adult communication manager is the tendency for those with considerable professional responsibilities to become workaholics. These people become excessively task-oriented, often to the cost of their development as integrated human beings. Sometimes becoming a workaholic is due to being poorly organized, especially with time management; such workaholics have to work long hours to meet deadlines. In any event, the neglect of their personal development is usually evident in the deterioration of their physical fitness, emotional stability, and growth in spiritually. There is, instead, an intense concentration on mental activity or time-consuming routine work.
Integrated people have balance lives; their spiritual, mental and physical selves are in harmony. This harmony and balance is reflected in integrated, balanced communication. In other words, the communication of integrated people is a balanced blend of thinking, feeling, action and awareness; they can communicate emotionally, rationally, or nonverbally, and are less likely to have frequent emotional outburst or operate in a seemingly unfeeling fashion. Balance people can operate with feelings, reasoning or action as the occasion requires.
What are some practical ways of maintaining balance communication? One thing which people can do before communicating with others is to ask themselves: ‘How will my future communication and relationship with this person be affected if I proceed to communicated as I intend to now?’ This question could be simplified: ‘Think before you speak’ or ’ Look before you leap’. People communicate, however, not only through speech but through action. In general terms, therefore, people should not commit themselves to any speech or action that could damage relationship without first weighing up the consequences.
A second practical suggestion is to learn from one’s mistake in communicating with another, and thus avoid repeating them. It is important to think back on how well or how poorly we managed communication with someone else. Ineffective communicators not only blunder in ways they later regret but continue to blunder because they have not learned from experience to control themselves and their social environments.
Personal effectiveness in communicating is not developed only from our own efforts and resources. Sensitive and perspective people can learn a good deal by observing highly competent role models. Such observation reinforces and complements what we can learn from reading about ways of communicating effectively with others.
The final practical suggestion concerns attitudes people should cultivate to refine their expertise in communication. Personally effective communicators always leave room to learn more, and never assume that there is nothing else for them to know or demonstrate. Since learning is a lifelong process, keeping open to new ideas and being willing to built upon existing strengths goes a long way toward helping people grow in their ability to be effective adult communication managers. Lifelong learners of this kind eventually become role models of good communication practice.
Summary
In this chapter we have considered how people can become more proficient in their communication and relationship with others. Such proficiency requires us to understand which factors, within and beyond ourselves, can profoundly affect our action and communication management. These factors include the nature of culture that permeates different kinds of human systems, the ‘personal culture’ of individuals, and the social values that influence organizational culture and communication practices.
Attention has also been given internal factors such as psychosocial crises in human development and the developmental tasks confronting adults at critical point in their lives. It was suggested that addressing these tasks successfully would enable adults to experience self actualization, thus providing a basis for further growth and development. Finally, the chapter offered practical suggestions for refining our ability in adult communication management.
The next and final chapter looks to the future, and tries to balance a vision of what men and women of the next decade will be like as communicators, with a vision of some of the changes that are taking place and will occur in the next few years. It emphasizes the need to understand, manage and forecast change. It concludes that constant striving to develop competence in adult communication management is something our society should strongly support. This effort will acquire greater depth and meaning once we acknowledge that the tip of the information incorrect reveals very little about the people with whom we want to communicate
Since communication, like breathing, is an inevitable part of being alive, the first step in developing a strategy for effective personal development is to ensure that any human activity involving one’s self and its relationship to others is conceptualized from an adult communication management perspective. This applied theoretical perspective is a synthesis of the constructivist, the people-in-systems, and the competence contributing perspective (Kaye, 1994). Some of the key question to ask at any significant point in one’s life, to assess the effectiveness of one’s communication, are: ’Am I understanding others in the ways they intend me to understand them?’, ’Am I being understood by others in the ways I intend them to understand me?’ and ’Are these the appropriate ways for me to communication with and relate to others in these kinds of specific situations?’
In some respects, these three questions subsume other, more specific, question people might ask themselves when appraising their effectiveness as communicators. One such specific question might be: ‘If I am not as handling my present crisis too well, is it affecting my communication and relationship with significant people in my life?’ Assuming the answer is ‘yes’, we could then ask: ‘ What can I do to restore the good communication I had with those who are important to me?’
One of the great stumbling-blocks to effective personal development as an adult communication manager is the tendency for those with considerable professional responsibilities to become workaholics. These people become excessively task-oriented, often to the cost of their development as integrated human beings. Sometimes becoming a workaholic is due to being poorly organized, especially with time management; such workaholics have to work long hours to meet deadlines. In any event, the neglect of their personal development is usually evident in the deterioration of their physical fitness, emotional stability, and growth in spiritually. There is, instead, an intense concentration on mental activity or time-consuming routine work.
Integrated people have balance lives; their spiritual, mental and physical selves are in harmony. This harmony and balance is reflected in integrated, balanced communication. In other words, the communication of integrated people is a balanced blend of thinking, feeling, action and awareness; they can communicate emotionally, rationally, or nonverbally, and are less likely to have frequent emotional outburst or operate in a seemingly unfeeling fashion. Balance people can operate with feelings, reasoning or action as the occasion requires.
What are some practical ways of maintaining balance communication? One thing which people can do before communicating with others is to ask themselves: ‘How will my future communication and relationship with this person be affected if I proceed to communicated as I intend to now?’ This question could be simplified: ‘Think before you speak’ or ’ Look before you leap’. People communicate, however, not only through speech but through action. In general terms, therefore, people should not commit themselves to any speech or action that could damage relationship without first weighing up the consequences.
A second practical suggestion is to learn from one’s mistake in communicating with another, and thus avoid repeating them. It is important to think back on how well or how poorly we managed communication with someone else. Ineffective communicators not only blunder in ways they later regret but continue to blunder because they have not learned from experience to control themselves and their social environments.
Personal effectiveness in communicating is not developed only from our own efforts and resources. Sensitive and perspective people can learn a good deal by observing highly competent role models. Such observation reinforces and complements what we can learn from reading about ways of communicating effectively with others.
The final practical suggestion concerns attitudes people should cultivate to refine their expertise in communication. Personally effective communicators always leave room to learn more, and never assume that there is nothing else for them to know or demonstrate. Since learning is a lifelong process, keeping open to new ideas and being willing to built upon existing strengths goes a long way toward helping people grow in their ability to be effective adult communication managers. Lifelong learners of this kind eventually become role models of good communication practice.
Summary
In this chapter we have considered how people can become more proficient in their communication and relationship with others. Such proficiency requires us to understand which factors, within and beyond ourselves, can profoundly affect our action and communication management. These factors include the nature of culture that permeates different kinds of human systems, the ‘personal culture’ of individuals, and the social values that influence organizational culture and communication practices.
Attention has also been given internal factors such as psychosocial crises in human development and the developmental tasks confronting adults at critical point in their lives. It was suggested that addressing these tasks successfully would enable adults to experience self actualization, thus providing a basis for further growth and development. Finally, the chapter offered practical suggestions for refining our ability in adult communication management.
The next and final chapter looks to the future, and tries to balance a vision of what men and women of the next decade will be like as communicators, with a vision of some of the changes that are taking place and will occur in the next few years. It emphasizes the need to understand, manage and forecast change. It concludes that constant striving to develop competence in adult communication management is something our society should strongly support. This effort will acquire greater depth and meaning once we acknowledge that the tip of the information incorrect reveals very little about the people with whom we want to communicate
Jumat, 06 Mei 2011
PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DAN POLITIK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang untuk menyelengarakan kegiatan belajar – mengajar. Sekolah di pandang sebagai wadah pertemuan antara guru dengan murid, terjadinya proses transformasi nilai – nilai budaya, pengembangan pengetahuan dan keterampilan, yang diperoleh melalui proses pembelajaran di sekolah.
Sebagai suatu organisasi, sekolah memiliki tanggung jawab dalam mewujudkan pencapaian tujuannya secara optimal sehinga keberadaan sekolah di tengah – tengah mayarakat benar – benar memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki standar mutu atau kualitas yang baik. Untuk menjadi sekolah yang baik dan bermutu, sebagai suatu organisasi atau lembaga pendidikan maka kepala sekolah sebagai pemimpin bersama – sama dengan seluruh personil personil bawahannya, baik guru- guru maupun staf tata usahanya, bekerja sama melakukan upaya – upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dikelola oleh organisasinya.
Kualitas suatu sekolah tidak hanya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya saja melainkan juga di tentukan oleh tersedianya fasilitas yang memadai berupa sarana dan prasarana sekolah serta lingkungan yang kondusif, dalam arti bahwa proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah itu harus berjalan aman, nyaman, dan terkendali. Namun semua itu tidak akan terwujud tanpa adanya adanya pemenuhan akan tersedianya fasilitas sekolah yang cukup memadai.
Agar semua fasilitas dan sarana pendidikan terpenuhi sekolah memerlukan suatu dana atau anggaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Dengan kata kata lain bahwa sekolah membutuhkan anggaran ( biaya ) agar pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan baik.
Anggaran atau biaya merupakan komponen utama yang dapat menggerakkan aktifitas di sekolah.Bia( oleh sekolah , peserta didik, dan/atau keluarga peserta didik) dan biaya tak langsung (seperti in come – in come yang dilewatkan). Perhatian terbanyak dicurahkan pada biya – biaya langsung, miungkin karena akibat biaya – biaya seperti ituterasa langsung dan kuat pembayar beban,pendidikan dan pajak,tentu saja karena statistic – statistic tentang belanja – belanja sekolajh itu mudah dibuat dan didapat (atau dapat diestimasi). Biaya – biaya tak langsung memerlukan rujukan – rujukan. Pada umumnya biaya langsung ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat yang beerkaitan dengan system – system sekolah.
Hal ini menurut Cohn (1979) berlaku bagi system sekolah public,karena ongkos pengajaan dan ongkos- ongkos lain dalam sekolah – sekolah dasar sampai SLTA praktis nol; dalam college – college dan universitas – universitas public, biaya – biaya itu jauh lebih kecil disbanding yang dalam institute – institusi privat.Tetapi sejumlah biaya langsung juga dipikul oleh para peserta didik dan/atau keluarga mereka. Contoh (1) biaya – biaya tambahan untk kamar , pangan ,dan sandang, (2) biaya – biaya transportasi ked an dari sekolah ; (3) biaya pasokan- pasokan seperti buku – buku perlengkapan kesenian dan olah raga.Pembiayaan suatu kegiatan bagaimana mencari dana dan bagaimana menggunakan dananya. Istilah pembiayaan pendidikan ; analisis pengeluaran dan penerimaan,dana menyelenggarakan pendidikan baik formal maupun non formal.
Aspek yang perlu diperhatikan (1) memprediksi kebutuhan pendidikan;(2)alokasi setiap komponen biaya;(3) analisis sumber,darimana dana dapat diperoleh;dan(4) pengawasan keuangan; cocok tidak antara perencanaan dan penggunaan anggaran. Perlu dicatat bahwa biaya – biaya pendidikan addalah estimasi – estimasi terabaikan dari kalkulasi – kalkulasi seperti biaya – biaya – biaya untuk perpustakaan , pendidikan di rumah, institusi – institusi agama, dan civic, media berita,buku dan majalah,dan lain – lain. Dalam konteks pemerintah kota/kabupaten biaya – biaya pendidikan yang harus dipenuhi seluruh penyelenggaraannya mencakup pendidikan formal persekolahan dan nonformal.
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang dapat dirumuskan dalam tulisan ini adalah “Bagaimana Pembiayaan pendidikan dan Politik di Indonesia ?”.
C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan secara tertulis kepada pembaca terutama mahasiswa tentang seluk beluk pembiayaan dalam pendidikan dan politik yang terjadi di Indonesia.
D. Manfaat
Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dari tulisan ini, adalah:
1. Sebagai masukan berharga untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pembiayaan pendidikan
2. Dapat dijadikan sebagai obyek penelitian untuk studi selanjutnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembiayaan Pendidikan dan Politik
1. Konsep dan Pengertian
Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan sebagai pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Dan biaya pendidikan menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi, merupakan salah satu komponen instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (di sekolah). Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan uang).
Nanang Fattah menambahkan biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa seperti pembelian alat-alat pembelajaran, penyediaan sarana pembelajaran, biaya transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan pemerintah, orang tua maupun siswa sendiri. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar, contohnya, uang jajan siswa, pembelian peralatan sekolah (pulpen, tas, buku tulis,dll).
Bagi sekolah formal,biaya pendidikan menyangkut proses bagaimana pendidikan dihasilkan melalui jalur penyelenggaraan sekolah, pendistribusian pendidikan diantara individu dan kelompok – kelompok yang memerlukan, berapa bamyak biaya yang dihabiskan oleh masyarakat dalam kegiatan pendidikan,dan kegiatan pendidikan macam apa yang harus diseleksi. Biaya pendidikan terutama untuk membiayai kegiatan operasional sekolah seperti manajemen sekolah dan manajemen pembelajaran merupakan salah satu aspek yang menentukan arah keberhasilan kegiatan belajar mengajar; baik secara langsung maupun tidak langsung.Kegiatan belajar dan mengajar pada tiap sekolah merupakan kegiatan inti dan suatu proses yang saling berkaitan satu sama lainnya.
Kegiatan belajar yang baik ternyata didukung oleh penerapan disiplin sekolah,kinerja guru,sarana dan prasarana yang ada, fasilitas pembelajaran, keadaan peserta didik,dan partisipasi orangtua yang kesemua kegiatan ini memerlukan dukungan biaya. Ketersediaan dana yang cukup,memperlihatkan kecenderungan kegiatan di sekolah bisa berjalan dengan baik, antara lain mendorong kinerja guru yang lebih bersemangat dan lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran,kegiatan kurikulum baik intrakurikulum ,kokurikulum dan kegiatan ekstra kurikulum yang bermutu, pelayanan administrasi ketatausahaan yang simple,rapi,dan tepat. Penjelasan utama peningkatan biaya pendidikan pada tahun – tahun terakhir ini menurut Vaizey (1972) ada hubungannya dengan tekanan sosial. Pendidikan yang diinstruksikan dari group – group sosial ekonomi menghaapkan menuju system pendidikan yang formal dan terarah.
Tekanan sosial membentuk tidak hanya pendidikan secara murni tetapi menyatukan antara pendapatan dengan ekonomi. Dikotomi antara sosial dan ekonomi sangat sulit digambarkan dan dikatakan dalam pendidikan.Apakah tuntutan pendidikan lebih cenderung dipengaruhi oleh tekanan sosial atau tekanan ekonomi. Pendidikan lebih dapat dipengaruhi secara keseluruhan yang merupakan kombinasi dari hubungan sosial dan ekonomi. Intinya, ekonomi pendidikan berkepentingen dengan (1) proses memproduksi pendidikan; (2) distribusi pendidikan diantara kelompok-kelompok dan individu-individu yang saling bersaing.; dan (3) persoallan-persoalan tentang berapa harus dibelanjakan oleh pemerintah yaitu investasi mendirikan sekolah, membayar guru dan personal sekolah, membayar operasional sekolah, membayar fasilitas belajar di kelas dan sebagainya; (4) persoalan-persoalan tentang berapa uang yang harus dibelanjakan dan apa komponennya oleh masyarakat maupun dari individu-individu untuk kegiatan-kegiatan pendidikan, dan (5) tipe-tipe kegiatan pada pendidikan mana yang harus dipilih.
Sekolah pada tatar teknis perlu mengembangkan kemampuan menganalisis biaya yang dibutuhkan untuk operasional sekolah yang berkorelasi signifikan terhadap mutu pendidikan yang akan diperolehnya. Secara poltis pagu anggaran pendidikan yang bersumber dari pemerintah menjadi penting tetap harus diperjuangkan oleh sekolah dan masyarakat. Jika pemerintah tidak menyediakan dana penyelenggaraan sekolah yang memadai, maka akan sulit memperoleh mutu. Salah satu yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu bangsa adalah tersedianya SDM berpendidikan. Akan tetapi SDM suatu bangsa itu berpendidikan dalam arti telah meluluskan berbagai jenjang pendidikan atau persekolahan, jika tidak didukung oleh SDM yang memiliki kemampuan teknologi, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa akan lambat. Pendidikan yang dimaksud disini, adalah pendidikan yang bermutu, yaitu lulusannya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik, serta etika bermasyarakat yang baik pula.
2. Investasi Pendidikan
Melalui investasi pendidikan dasar dan menengah bagi suatu bangsa, mislanya, berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan dan percepatan pembangunan. Dalam waktu yang bersamaan, jalan yang paling efektif adalah membantu masyarakat memperoleh kemanfaatan pembangunan dengan cara memperluas akses anak-anak terhadap pendidikan yang bermutu pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Bangsa yang memberi prioritas utama pembangunan pendidikan memberi keuntungan dan manfaat yang besar sekali bagi Negara yang menyiapkan SDM. Bangasa itu akan megalami kemajuan yang berarti. Sebagai suatu investasi pendidikan yang harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan oleh karena itu diperlukan biaya pendidikan yang besar.
Cohn (1979:30) mengemukakan bahwa pendidikan menempatkan manusia menjadi terdidik sebagai orang yang sukses secara ekonomi dan sosial. Manusia sebagai modal dasar diinvestasikan dalam jenjang dan jenis pendidikan yang sifatnya umum dan spesifik dalam bentuk latihan kerja. Manusia yang terdidik akan mengahasilkan produk kerja yang tinggi dan bermutu dengan segala fasilitas dan kesempatan serta pengelolaan kerja yang mendukung, dan penghasilan yang meningkat bagi yang bersangkutan sesuai kualitas kerja yang ditampilkan. Investasi pendidikan telah membuktikan secara luas memberi keuntungan baik bagi individu maupun masyarakat. Penanaman modal dalam pendidikan dapat mneingkatkan pertumbuhan ekonomi. Investasi manusia oleh para politisi, birokrat, dan masyarakat harus mempunyai visi yang sama yaitu investasi pembangunan SDM dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
3. Pendekatan Cost Benefit Analisis.
Pengukuran terhadap keuntungan investasi pendidikan menurut Psacharopaulos (1987) dilakukan melalui pendekatan teknik-teknnik “cost benefit analysis” untuk membandingkan total biaya pendidikan atau total cost of education baik untuk individu maupun masyarat, dengan pengembalian yang diharapkan atau expected returns dari investasi dalam persekolahan ataupun on the job training. Hal ini merupakan ukuran rate of return dari investasi pendidikan baik secara pribadi maupun sosial (private or social rate of return).
Fangerlind, Ingemar dan saha (1983) mengemukakan bahwa teori human capital pertama sekali diperkenalkan oleh Theodore Shultz (1960) dalam tulisannya yang bertema investment in human capital, ia menyatakan bahwa pendidikan tidak boleh diartikan sebuah “konsumsi”, tetapi pendidikan harus diartikan sebagai “investasi” produktif.
Investasi pendidikan adalah pembiayaan modal pengadaan sarana dan prasarana pendidikan , dan biaya pengelolaan yaitu pembiayaan guru, pegawai,PBM dan KBM,administrasi,tata usaha dan pemeliharaan termasuk perawatan inventaris dan sarana lainnya. Persoalannya siapa yang bertanggungjawab terhadap pembiayaan pendidikan dan siapa yang memakai, kemudian siapa yang terkait dengan perencanaan kerja pendidikan dan sekolah. Bagi individu pendidikan akan meningkatkan kemampuan ekonomis dan kecerdasan individu. Individu yang telah mengikuti pendidikan pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu disebut sebagai investasi dari manusia (human investment) yang tercermin dalam keterampilan atau skill, pengetahuan dan produktifitas kerjanya menghasilkan nilai ekonomi bagi dirinya maupun masyarakatnya.
Analisis biaya manfaat merupakan metodologi yang banyak digunakan dalam melakukan analisis investasi pendidikan. Metode ini dapat membantu para pengambil keputusan dalam menentukan pilihan diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas tetapi memberikan keuntungan yang tinggi.
Dalam konsep dasar pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji atau dianalisis, yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan (total cost) dan biaya satuan per siswa (unit cost). Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan aggregate biaya pendidikan tingkat sekolah baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikerluarkan untuk menyelenggarakan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Oleh karena biaya satuan ini diperoleh dengan memperhitungkan jumlah murid pada masing-masing sekolah, maka ukuran biaya sattuan dianggap standard an dapat dibandingkan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Analisis mengenai biaya satuan dalam kaitannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan kita untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat, pemerintah untuk pendidikan. Disamping itu, juga dapat menjadi penilaian bagaimana alternatif kebijakan dalam upaya perbaikan atau peningkatan sistem pendidikan.
Pendidikan merupakan sumber kunci pembangunan ekonomi suatu bangsa sekaligus sebagai outcome proses pembangunan. Kepustakaan ekonomi internasional sangat jelas menerangkan bahwa investasi pendidikan di suatu Negara dalam menyelenggarakan sekolah dapat diarahkan untuk menumbuhkan ekonomi suatu bangsa. Pendapat ini sejalan dengan pandangan Johns dan Morphet (1975) bahwa pada Negara tertentu pendidikan merupkan salah satu penyumbang utama bagi pertumbuhan ekonomi.
4. Mengukur Biaya Pendidikan
Didalam menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan makro.
Faktor utama yang menentukan perhitungan biaya satuan dalam sistem pendidikan adalah kebijakan dalam pengalokasian anggaran pendidikan disetiap negara. Satuan biaya pendidikan disetiap negara sangat bervariasi, yang disebabkan oleh perbedaan cara penyelenggaraan pendidikan. Untuk membandingkan biaya pendidikan pada tiap jenjang ditiap negara, teknik yang dilakukan adalah dengan membandingkan biaya operasional pendidikan dan sumber keuangannya, yang bisa dilihat dari persentase GNP dari tiap negara.
b. Pendekatan mikro.
Pendekatan ini menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikan. Biaya total merupakan gabungan-gabungan biaya per komponen input pendidikan di tiap sekolah. Satuan biaya pendidikan merupakan biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk melaksanakan pendidikan di sekolah per murid per tahun anggaran. Satuan biaya ini merupakan fungsi dari besarnya pengeluaran sekolah serta banyaknya murid sekolah. Dengan demikian, satuan biaya ini dapat diketahui dengan jalan membagi seluruh jumlah pengeluaran sekolah setiap tahun dengan jumlah murid sekolah pada tahun yang bersangkutan. Perhtitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut:
Sb (s,t) = f [K (s,t) : M (s,t)]
Keterangan:
Sb : satuan biaya murid per tahun
K : jumlah seluruh pengeluaran.
M : jumlah murid
s : sekolah tertentu, t : tahun tertentu
Selain itu biaya pendidikan menurut nanang fattah tidak hanya berorientasi pada uang saja, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan (oppurtunity cost) yang sering juga disebut income forgone (potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran, atau menyelesaikan studi). Yang dapat dihitung dengan formula berikut:
C = L + K
Keterangan:
C : biaya pendidikan
L : biaya langsung dan biaya tak langsung
K : jumlah rata-rata penghasilan tamatan.
5.Tujuan Analisis Manfaat Biaya
Setelah memahami bentuk biaya maupun cara perhitungannya, dan setelah sedikit dibahas di atas, tujuan dari analisis biaya adalah untuk memberikan kemudahan, memberikan informasi pada para pengambil keputusan untuk menentukan langkah/cara dalam pembuatan kebijakan sekolah, guna mencapai efektivitas maupun efisiensi pengolahan dana pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan.
Secara khusus, analisis manfaat biaya pendidikan bagi pemerintah menjadi acuan untuk menetapkan anggaran pendidikan dalam RAPBN, dan juga sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sedangkan bagi masyarakat, analisis manfaat biaya pendidikan ini berguna sebagai dasar/pijakan dalam melakukan ”investasi” di dunia pendidikan. Hal ini dirasakan penting untuk diketahui dan dipelajari, karena menurut sebagian masyarakat pendidikan hanya menghabis-habiskan uang tanpa ada jaminan/prospek peningkatan hidup yang jelas dimasa yang akan dating
Didefinisikan sebagai Biaya rata-rata per siswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah (enrollment) dalam kurun waktu tertentu. Dengan mengetahui besarnya biaya satuan per siswa menurut jenjang dan jenis pendidikannya, akan berguna untuk menilai berbagai alternative kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana yang kemudian dibagi dengan jumlah murid.
Mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan oleh murid.
B. Kebutuhan Operasional Sekolah
Sistem penganggaran pendidikan di Indonesia menurut Clark at al (1998:25) sangat rumit dan disana tidak terdapat mekanisme yang teratur untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pembiayaan sewkolah atau membandingkan perbedaan biaya-biaya antarjenjang dan jenis pendidikan. Tidak ada data komprehensif mengenai biaya dan penganggaran pendidikan di sekolah dan masyarakat sebagai bahan bagi pemerintah dalam mengembangkan dan menentukan kerangka kebijakan mobilisasi, alokasi sumber-sumber, dan efektifitas penggunaan biaya pendidikan. Tujuan pelaporan menganalisis proses penyusunan anggaran, meringkas, dan menganalisis data mngenai sumber-sumber dana, biaya-biaya pendidikan, dan pengeluaran-pengeluaran pendidikan. Dengan cara itu diharapkan dapat membantu (pemimpin pendidikan di indonesia) memahami pendanaan pendidikan nasional dan penentuan kebijakan. Mengenai pembiayaan pendidikan Clark at al ()1998 mengamnbil contoh data yang akan dikumpulkan untuk tahun 1995-1996 diharapkan dapat mengestimasi (a) pengeluaran total dan pengeluaran per peserta didik untuk berbagai jenis dan jenjang pendidikan; (b) besarnya anggaran pemerintah untuk pendidikan, bagaimana anggaran itu dialokasikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, dan apakah dana itu digunakan sesuai dengan kebutuhan; (c) jumlah dana pendidikan dari berbagai sumber dan pengaruhnya terhadap pengeluaran total di sekolah; (d) pengeluaran pada berbagai jenis sekolah.
Alokasi sumber-sumber daya pendidikan, proses pendidikan melibatkan produksi output-output dari himpunan input. Teknik-teknik analisis sistim dapat dipakai untuk mengevaluasi berfungsinya institusi-institusi pendidikan dan meneliti kemungkinan-kemungkinan efisiensi. Analisis pembiayaan antara lain dilihat dari aspek (1) identifikasi kebutuhan yang berhubungan dengan pembiayaan besarnya kebutuhan; (2) enrollment tentang kebutuhan setiap peserta didik; (3) jenis kebutuhan setiap peserta didik; (4) kebutuhan sarana dan prasarana; (5) biaya program. Program yang berat akan lain dengan program yang ringan. Alokasi kebutuhan penyelenggaraan program-program sekolah seperti keperluan operasional pengajaran, operasional adminstrasi dan perkantoran, operasional laboratorium, operasional perpustakaan, perawatan dan pemeliharaan, penggantian barang-barang keperluan mendesak, kebersihan dan kesehatan dapat diidentifikasi oleh kepala sekolah bersama masyarakat dan pemerintah untuk mencari solusi sehingga memenuhi keperluan yang dibutuhkan tersebut. Mengharapkan manajemen sekolah yang baik dan berkualitas tentu harus didukung ketersediaan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan organisasi sekolah.
a. Kebutuhan Peserta Didik
Memperlancar belajar peserta didik adalah dengan memenuhi kebutuhan belajarnya. Ada kebutuhan yang dapat disediakan oleh orang tua tetapi ada juga yang harus disediakan oleh pemerintah yang diberikan ke sekolah.
b. Perlengkapan dan Peralatan
Perlengkapan pendidikan di sekolah adalah semua benda bergerak maupun tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Perlengakapan dan peralatan sekolah dipersiapkan untuk tiga komponen kegiatan yaitu (1) keperluan manajemen dan admistrasi ketatausahaan; (2) keperluan guru mengajar; dan (3) keperluan peserta didik belajar.
Investasi perlengakapan pendidikan diarahkan kepada ketiga komponen dimaksud dan kegiatan pengelolaan perlengkapan pendidikan meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, investarisasi, pemeliharaan dan penghapusan. Dalam mengelola fasilitas agar mempunyai manfaat yang tinggi diperlukan arahan yang jelas, yang diperlukan jangan sampai membeli barang atau perlengakapan yang sebenarnya tidak begitu diperlukan, sementara yang benar-nenar diperlukan malah terabaikan.
c. Pemeliharaan dan Perawatan
Investarisasi perlengkapan kegiatan melaksanaknan pengurusan penyelenggaraan, pengaturan, dan pencatatan barang perlengkapan yang menjadi milik sekolah. Investaris adalah suatu dokumen berisis jenis dan jumlah barang bergerak maupun tidak bergerak menjadi milik dan dikuasai sekolah. Dokumen tersebut sebagai alat control untuk melakukan pemeliharaan dan perawatan peralatan dan perlengakapan sekolah, sehingga dilihat dari segi penggunaan anggaraan tidak ada dana yang over lapping atau tumpang tindih dalam membelanjakannya. Barang-barang yang sudah ada diterima, dicatat, digunakan, diatur, dirawat, dan dijaga secara tertib rapih dan aman. Secara berkala atau incidental diadakan pengontrolan dan perhitungan baranmg persediaan agar diketahui apakh masih sesuai.
d. Sarana dan Prasarana
Ketersediaan biaya untuk sarana dan prasarana sekolah merupakan indicator yang cukup berpengaruh terhadap KBM. Anggaran belanja sekolah diperlukan untuk perbaikan saran prasarana seperti merawat san memperbaiki ruang kelas serta ruang kantor, merawat dan memperbaiki lapangan olahraga dan lain-lain.
Menurut Indriyanto (1998) terdapat 2 fenomena yang dapat diamati berkenaan dengan keterssediaan sarana dan p;rasarana sekolah yakni; (1) fenomena keterbatasan yaitu keterbatasan sarana dan prasaran merupakan salah satu factor yang menonjol dalam pelaksanaan kebijakan dan program sekolah yang berada di perkotaan apalagi yang di pedesaan. Keterbatasan ketersediaan sarana dan prasarana tidak saja terjadi pada tingkat sekolah tetapi juga pada dinas pendidikan di tingkat kabupaten/kota maupun kecamatan; dan (2) pemanfaatan yaitu dilain pihak, unit-unit kerja dan sekolah yang telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai ternyata kurang memanfaatkannya. Hal ini terjadi karena ketersediaan sarana dan prasarana tidak dilihat dari fungsinya, tetapi sebagai simbol status, tidak dilakukan dengan pertimbangan persyaratan yang diperlukan tetapi dilakukan dengan tingkat ketersediaan dana. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana tidak dapat menjamin kualitas pelayanan belajar yang menunjang efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan sekolah.
e. Gaji guru
Charles S. Benson (1945) mengatakan mengajar sekolah public tetap merupakan suatu panggilan dengan plafon gaji relative kecil disbanding bidang-bidang lain yang memperkerjakan lulusan college. Penerimaan gaji guru di berlakukan perbedaan pendidikan antara diplomat dengan saarjana dengan pasca sarjana, yang mengikuti training atau tidak dan pengalaman kerja, diperkirakan dapat meningkatkan kinerja kependidikan. Namun perbedaan pengganjian guru sebagai PNS di Indonesia adalah golongan dan lama bekerja karena ada kenaikan gaji berkala setiap 2 tahun bagi PNS. Secara riel selisi perbedaan gaji tingkat golongan mat tipis tidak mencapai 15% dari masing-masing tingkat golongan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sehubungan dengan uraian pada pembahasan diatas dapat disimpulkan:
1. Biaya pendidikan dapat dikatakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan pendidikan. Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang bermutu juga tidak terlepas dari perencanaan anggaran yang mantap, alokasi yang tepat sasaran dan efektif sehingga membuat seluruh komponen lembaga pendidikan tersebut bersinergi dan memberikan hasil yang optimal dalam pencapaian tujuan.
2. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa analisis manfaat biaya pendidikan menjadi bahan perhatian yang penting bagi pemerintah, masyarakat, dan para penyelenggara pendidikan untuk menentukan langkah progresif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
3. Investasi pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan dan percepatan pembangunan.
B. Saran
Pendidikan yang baik tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi tidak tepat jika ada istilah pendidikan harus murah. Pendidikan murah hanya akan menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak berkualitas. Yang manjadi masalah adalah biaya pendidikan sekolah itu dibebankan kepada siapa, apakah orangtua, masyarakat atau pemerintah. ataukah bersama secara proporsional.
Oleh karena itu program Pendidikan Gratis haruslah dimaknai semua biaya untuk kebutuhan itu dihitung dan dibiayai oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah.
Dalam pelaksanaan biaya-biaya Sarana-prasarana, gaji dan operasional harus diberikan langsung lepada sekolah, sedangkan biaya pengembangan mutu dikelola oleh dinas dan UPK/UPT non sekolah secara proporsional.
Pendidikan gratis dalam pelaksanaan juga dapat diartikan Pendidikan Gratis bagi Anak Kurang Mampu serta Anak Berbakat, sehingga dalam pelaksanaan terjadi pembiayaan subsidi silang. Dimana warga masyarakat yang mampu baik secara perorangan atau lembaga membantu kelompok lain. Pelaksanaan model yang demikian lebih menyentuh rasa keadilan.
Apabila program Pendidikan gratis tidak mempertimbangkan hal-hal tersebut, akan dapat memunculkan ketidak adilan, stagnasi mutu dan menurunnya kondusivitas iklim pendidikan. Dan itu sangat berbahaya akibatnya dalam jangka waktu panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Fattah, Nanang. 2002. Ekonomi & Pembiayaan Pendidikan. Bandung: PT.Rosda Karya.
Hallak, J. 1985. Analisis Biaya dan Pengeluaran Untuk Pendidikan. Paris: International Institute For Planning, UNbf ESCO.
Supriadi, Dedi. 2003. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah.Bandung: PT.Rosda Karya.
Prof. Dr. Dedi Supriadi. 2003. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang untuk menyelengarakan kegiatan belajar – mengajar. Sekolah di pandang sebagai wadah pertemuan antara guru dengan murid, terjadinya proses transformasi nilai – nilai budaya, pengembangan pengetahuan dan keterampilan, yang diperoleh melalui proses pembelajaran di sekolah.
Sebagai suatu organisasi, sekolah memiliki tanggung jawab dalam mewujudkan pencapaian tujuannya secara optimal sehinga keberadaan sekolah di tengah – tengah mayarakat benar – benar memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki standar mutu atau kualitas yang baik. Untuk menjadi sekolah yang baik dan bermutu, sebagai suatu organisasi atau lembaga pendidikan maka kepala sekolah sebagai pemimpin bersama – sama dengan seluruh personil personil bawahannya, baik guru- guru maupun staf tata usahanya, bekerja sama melakukan upaya – upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dikelola oleh organisasinya.
Kualitas suatu sekolah tidak hanya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya saja melainkan juga di tentukan oleh tersedianya fasilitas yang memadai berupa sarana dan prasarana sekolah serta lingkungan yang kondusif, dalam arti bahwa proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah itu harus berjalan aman, nyaman, dan terkendali. Namun semua itu tidak akan terwujud tanpa adanya adanya pemenuhan akan tersedianya fasilitas sekolah yang cukup memadai.
Agar semua fasilitas dan sarana pendidikan terpenuhi sekolah memerlukan suatu dana atau anggaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Dengan kata kata lain bahwa sekolah membutuhkan anggaran ( biaya ) agar pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan baik.
Anggaran atau biaya merupakan komponen utama yang dapat menggerakkan aktifitas di sekolah.Bia( oleh sekolah , peserta didik, dan/atau keluarga peserta didik) dan biaya tak langsung (seperti in come – in come yang dilewatkan). Perhatian terbanyak dicurahkan pada biya – biaya langsung, miungkin karena akibat biaya – biaya seperti ituterasa langsung dan kuat pembayar beban,pendidikan dan pajak,tentu saja karena statistic – statistic tentang belanja – belanja sekolajh itu mudah dibuat dan didapat (atau dapat diestimasi). Biaya – biaya tak langsung memerlukan rujukan – rujukan. Pada umumnya biaya langsung ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat yang beerkaitan dengan system – system sekolah.
Hal ini menurut Cohn (1979) berlaku bagi system sekolah public,karena ongkos pengajaan dan ongkos- ongkos lain dalam sekolah – sekolah dasar sampai SLTA praktis nol; dalam college – college dan universitas – universitas public, biaya – biaya itu jauh lebih kecil disbanding yang dalam institute – institusi privat.Tetapi sejumlah biaya langsung juga dipikul oleh para peserta didik dan/atau keluarga mereka. Contoh (1) biaya – biaya tambahan untk kamar , pangan ,dan sandang, (2) biaya – biaya transportasi ked an dari sekolah ; (3) biaya pasokan- pasokan seperti buku – buku perlengkapan kesenian dan olah raga.Pembiayaan suatu kegiatan bagaimana mencari dana dan bagaimana menggunakan dananya. Istilah pembiayaan pendidikan ; analisis pengeluaran dan penerimaan,dana menyelenggarakan pendidikan baik formal maupun non formal.
Aspek yang perlu diperhatikan (1) memprediksi kebutuhan pendidikan;(2)alokasi setiap komponen biaya;(3) analisis sumber,darimana dana dapat diperoleh;dan(4) pengawasan keuangan; cocok tidak antara perencanaan dan penggunaan anggaran. Perlu dicatat bahwa biaya – biaya pendidikan addalah estimasi – estimasi terabaikan dari kalkulasi – kalkulasi seperti biaya – biaya – biaya untuk perpustakaan , pendidikan di rumah, institusi – institusi agama, dan civic, media berita,buku dan majalah,dan lain – lain. Dalam konteks pemerintah kota/kabupaten biaya – biaya pendidikan yang harus dipenuhi seluruh penyelenggaraannya mencakup pendidikan formal persekolahan dan nonformal.
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang dapat dirumuskan dalam tulisan ini adalah “Bagaimana Pembiayaan pendidikan dan Politik di Indonesia ?”.
C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan secara tertulis kepada pembaca terutama mahasiswa tentang seluk beluk pembiayaan dalam pendidikan dan politik yang terjadi di Indonesia.
D. Manfaat
Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dari tulisan ini, adalah:
1. Sebagai masukan berharga untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pembiayaan pendidikan
2. Dapat dijadikan sebagai obyek penelitian untuk studi selanjutnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembiayaan Pendidikan dan Politik
1. Konsep dan Pengertian
Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan sebagai pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Dan biaya pendidikan menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi, merupakan salah satu komponen instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (di sekolah). Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan uang).
Nanang Fattah menambahkan biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa seperti pembelian alat-alat pembelajaran, penyediaan sarana pembelajaran, biaya transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan pemerintah, orang tua maupun siswa sendiri. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar, contohnya, uang jajan siswa, pembelian peralatan sekolah (pulpen, tas, buku tulis,dll).
Bagi sekolah formal,biaya pendidikan menyangkut proses bagaimana pendidikan dihasilkan melalui jalur penyelenggaraan sekolah, pendistribusian pendidikan diantara individu dan kelompok – kelompok yang memerlukan, berapa bamyak biaya yang dihabiskan oleh masyarakat dalam kegiatan pendidikan,dan kegiatan pendidikan macam apa yang harus diseleksi. Biaya pendidikan terutama untuk membiayai kegiatan operasional sekolah seperti manajemen sekolah dan manajemen pembelajaran merupakan salah satu aspek yang menentukan arah keberhasilan kegiatan belajar mengajar; baik secara langsung maupun tidak langsung.Kegiatan belajar dan mengajar pada tiap sekolah merupakan kegiatan inti dan suatu proses yang saling berkaitan satu sama lainnya.
Kegiatan belajar yang baik ternyata didukung oleh penerapan disiplin sekolah,kinerja guru,sarana dan prasarana yang ada, fasilitas pembelajaran, keadaan peserta didik,dan partisipasi orangtua yang kesemua kegiatan ini memerlukan dukungan biaya. Ketersediaan dana yang cukup,memperlihatkan kecenderungan kegiatan di sekolah bisa berjalan dengan baik, antara lain mendorong kinerja guru yang lebih bersemangat dan lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran,kegiatan kurikulum baik intrakurikulum ,kokurikulum dan kegiatan ekstra kurikulum yang bermutu, pelayanan administrasi ketatausahaan yang simple,rapi,dan tepat. Penjelasan utama peningkatan biaya pendidikan pada tahun – tahun terakhir ini menurut Vaizey (1972) ada hubungannya dengan tekanan sosial. Pendidikan yang diinstruksikan dari group – group sosial ekonomi menghaapkan menuju system pendidikan yang formal dan terarah.
Tekanan sosial membentuk tidak hanya pendidikan secara murni tetapi menyatukan antara pendapatan dengan ekonomi. Dikotomi antara sosial dan ekonomi sangat sulit digambarkan dan dikatakan dalam pendidikan.Apakah tuntutan pendidikan lebih cenderung dipengaruhi oleh tekanan sosial atau tekanan ekonomi. Pendidikan lebih dapat dipengaruhi secara keseluruhan yang merupakan kombinasi dari hubungan sosial dan ekonomi. Intinya, ekonomi pendidikan berkepentingen dengan (1) proses memproduksi pendidikan; (2) distribusi pendidikan diantara kelompok-kelompok dan individu-individu yang saling bersaing.; dan (3) persoallan-persoalan tentang berapa harus dibelanjakan oleh pemerintah yaitu investasi mendirikan sekolah, membayar guru dan personal sekolah, membayar operasional sekolah, membayar fasilitas belajar di kelas dan sebagainya; (4) persoalan-persoalan tentang berapa uang yang harus dibelanjakan dan apa komponennya oleh masyarakat maupun dari individu-individu untuk kegiatan-kegiatan pendidikan, dan (5) tipe-tipe kegiatan pada pendidikan mana yang harus dipilih.
Sekolah pada tatar teknis perlu mengembangkan kemampuan menganalisis biaya yang dibutuhkan untuk operasional sekolah yang berkorelasi signifikan terhadap mutu pendidikan yang akan diperolehnya. Secara poltis pagu anggaran pendidikan yang bersumber dari pemerintah menjadi penting tetap harus diperjuangkan oleh sekolah dan masyarakat. Jika pemerintah tidak menyediakan dana penyelenggaraan sekolah yang memadai, maka akan sulit memperoleh mutu. Salah satu yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu bangsa adalah tersedianya SDM berpendidikan. Akan tetapi SDM suatu bangsa itu berpendidikan dalam arti telah meluluskan berbagai jenjang pendidikan atau persekolahan, jika tidak didukung oleh SDM yang memiliki kemampuan teknologi, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa akan lambat. Pendidikan yang dimaksud disini, adalah pendidikan yang bermutu, yaitu lulusannya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik, serta etika bermasyarakat yang baik pula.
2. Investasi Pendidikan
Melalui investasi pendidikan dasar dan menengah bagi suatu bangsa, mislanya, berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan dan percepatan pembangunan. Dalam waktu yang bersamaan, jalan yang paling efektif adalah membantu masyarakat memperoleh kemanfaatan pembangunan dengan cara memperluas akses anak-anak terhadap pendidikan yang bermutu pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Bangsa yang memberi prioritas utama pembangunan pendidikan memberi keuntungan dan manfaat yang besar sekali bagi Negara yang menyiapkan SDM. Bangasa itu akan megalami kemajuan yang berarti. Sebagai suatu investasi pendidikan yang harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan oleh karena itu diperlukan biaya pendidikan yang besar.
Cohn (1979:30) mengemukakan bahwa pendidikan menempatkan manusia menjadi terdidik sebagai orang yang sukses secara ekonomi dan sosial. Manusia sebagai modal dasar diinvestasikan dalam jenjang dan jenis pendidikan yang sifatnya umum dan spesifik dalam bentuk latihan kerja. Manusia yang terdidik akan mengahasilkan produk kerja yang tinggi dan bermutu dengan segala fasilitas dan kesempatan serta pengelolaan kerja yang mendukung, dan penghasilan yang meningkat bagi yang bersangkutan sesuai kualitas kerja yang ditampilkan. Investasi pendidikan telah membuktikan secara luas memberi keuntungan baik bagi individu maupun masyarakat. Penanaman modal dalam pendidikan dapat mneingkatkan pertumbuhan ekonomi. Investasi manusia oleh para politisi, birokrat, dan masyarakat harus mempunyai visi yang sama yaitu investasi pembangunan SDM dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
3. Pendekatan Cost Benefit Analisis.
Pengukuran terhadap keuntungan investasi pendidikan menurut Psacharopaulos (1987) dilakukan melalui pendekatan teknik-teknnik “cost benefit analysis” untuk membandingkan total biaya pendidikan atau total cost of education baik untuk individu maupun masyarat, dengan pengembalian yang diharapkan atau expected returns dari investasi dalam persekolahan ataupun on the job training. Hal ini merupakan ukuran rate of return dari investasi pendidikan baik secara pribadi maupun sosial (private or social rate of return).
Fangerlind, Ingemar dan saha (1983) mengemukakan bahwa teori human capital pertama sekali diperkenalkan oleh Theodore Shultz (1960) dalam tulisannya yang bertema investment in human capital, ia menyatakan bahwa pendidikan tidak boleh diartikan sebuah “konsumsi”, tetapi pendidikan harus diartikan sebagai “investasi” produktif.
Investasi pendidikan adalah pembiayaan modal pengadaan sarana dan prasarana pendidikan , dan biaya pengelolaan yaitu pembiayaan guru, pegawai,PBM dan KBM,administrasi,tata usaha dan pemeliharaan termasuk perawatan inventaris dan sarana lainnya. Persoalannya siapa yang bertanggungjawab terhadap pembiayaan pendidikan dan siapa yang memakai, kemudian siapa yang terkait dengan perencanaan kerja pendidikan dan sekolah. Bagi individu pendidikan akan meningkatkan kemampuan ekonomis dan kecerdasan individu. Individu yang telah mengikuti pendidikan pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu disebut sebagai investasi dari manusia (human investment) yang tercermin dalam keterampilan atau skill, pengetahuan dan produktifitas kerjanya menghasilkan nilai ekonomi bagi dirinya maupun masyarakatnya.
Analisis biaya manfaat merupakan metodologi yang banyak digunakan dalam melakukan analisis investasi pendidikan. Metode ini dapat membantu para pengambil keputusan dalam menentukan pilihan diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas tetapi memberikan keuntungan yang tinggi.
Dalam konsep dasar pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji atau dianalisis, yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan (total cost) dan biaya satuan per siswa (unit cost). Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan aggregate biaya pendidikan tingkat sekolah baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikerluarkan untuk menyelenggarakan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Oleh karena biaya satuan ini diperoleh dengan memperhitungkan jumlah murid pada masing-masing sekolah, maka ukuran biaya sattuan dianggap standard an dapat dibandingkan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Analisis mengenai biaya satuan dalam kaitannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan kita untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat, pemerintah untuk pendidikan. Disamping itu, juga dapat menjadi penilaian bagaimana alternatif kebijakan dalam upaya perbaikan atau peningkatan sistem pendidikan.
Pendidikan merupakan sumber kunci pembangunan ekonomi suatu bangsa sekaligus sebagai outcome proses pembangunan. Kepustakaan ekonomi internasional sangat jelas menerangkan bahwa investasi pendidikan di suatu Negara dalam menyelenggarakan sekolah dapat diarahkan untuk menumbuhkan ekonomi suatu bangsa. Pendapat ini sejalan dengan pandangan Johns dan Morphet (1975) bahwa pada Negara tertentu pendidikan merupkan salah satu penyumbang utama bagi pertumbuhan ekonomi.
4. Mengukur Biaya Pendidikan
Didalam menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan makro.
Faktor utama yang menentukan perhitungan biaya satuan dalam sistem pendidikan adalah kebijakan dalam pengalokasian anggaran pendidikan disetiap negara. Satuan biaya pendidikan disetiap negara sangat bervariasi, yang disebabkan oleh perbedaan cara penyelenggaraan pendidikan. Untuk membandingkan biaya pendidikan pada tiap jenjang ditiap negara, teknik yang dilakukan adalah dengan membandingkan biaya operasional pendidikan dan sumber keuangannya, yang bisa dilihat dari persentase GNP dari tiap negara.
b. Pendekatan mikro.
Pendekatan ini menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikan. Biaya total merupakan gabungan-gabungan biaya per komponen input pendidikan di tiap sekolah. Satuan biaya pendidikan merupakan biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk melaksanakan pendidikan di sekolah per murid per tahun anggaran. Satuan biaya ini merupakan fungsi dari besarnya pengeluaran sekolah serta banyaknya murid sekolah. Dengan demikian, satuan biaya ini dapat diketahui dengan jalan membagi seluruh jumlah pengeluaran sekolah setiap tahun dengan jumlah murid sekolah pada tahun yang bersangkutan. Perhtitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut:
Sb (s,t) = f [K (s,t) : M (s,t)]
Keterangan:
Sb : satuan biaya murid per tahun
K : jumlah seluruh pengeluaran.
M : jumlah murid
s : sekolah tertentu, t : tahun tertentu
Selain itu biaya pendidikan menurut nanang fattah tidak hanya berorientasi pada uang saja, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan (oppurtunity cost) yang sering juga disebut income forgone (potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran, atau menyelesaikan studi). Yang dapat dihitung dengan formula berikut:
C = L + K
Keterangan:
C : biaya pendidikan
L : biaya langsung dan biaya tak langsung
K : jumlah rata-rata penghasilan tamatan.
5.Tujuan Analisis Manfaat Biaya
Setelah memahami bentuk biaya maupun cara perhitungannya, dan setelah sedikit dibahas di atas, tujuan dari analisis biaya adalah untuk memberikan kemudahan, memberikan informasi pada para pengambil keputusan untuk menentukan langkah/cara dalam pembuatan kebijakan sekolah, guna mencapai efektivitas maupun efisiensi pengolahan dana pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan.
Secara khusus, analisis manfaat biaya pendidikan bagi pemerintah menjadi acuan untuk menetapkan anggaran pendidikan dalam RAPBN, dan juga sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sedangkan bagi masyarakat, analisis manfaat biaya pendidikan ini berguna sebagai dasar/pijakan dalam melakukan ”investasi” di dunia pendidikan. Hal ini dirasakan penting untuk diketahui dan dipelajari, karena menurut sebagian masyarakat pendidikan hanya menghabis-habiskan uang tanpa ada jaminan/prospek peningkatan hidup yang jelas dimasa yang akan dating
Didefinisikan sebagai Biaya rata-rata per siswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah (enrollment) dalam kurun waktu tertentu. Dengan mengetahui besarnya biaya satuan per siswa menurut jenjang dan jenis pendidikannya, akan berguna untuk menilai berbagai alternative kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana yang kemudian dibagi dengan jumlah murid.
Mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan oleh murid.
B. Kebutuhan Operasional Sekolah
Sistem penganggaran pendidikan di Indonesia menurut Clark at al (1998:25) sangat rumit dan disana tidak terdapat mekanisme yang teratur untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pembiayaan sewkolah atau membandingkan perbedaan biaya-biaya antarjenjang dan jenis pendidikan. Tidak ada data komprehensif mengenai biaya dan penganggaran pendidikan di sekolah dan masyarakat sebagai bahan bagi pemerintah dalam mengembangkan dan menentukan kerangka kebijakan mobilisasi, alokasi sumber-sumber, dan efektifitas penggunaan biaya pendidikan. Tujuan pelaporan menganalisis proses penyusunan anggaran, meringkas, dan menganalisis data mngenai sumber-sumber dana, biaya-biaya pendidikan, dan pengeluaran-pengeluaran pendidikan. Dengan cara itu diharapkan dapat membantu (pemimpin pendidikan di indonesia) memahami pendanaan pendidikan nasional dan penentuan kebijakan. Mengenai pembiayaan pendidikan Clark at al ()1998 mengamnbil contoh data yang akan dikumpulkan untuk tahun 1995-1996 diharapkan dapat mengestimasi (a) pengeluaran total dan pengeluaran per peserta didik untuk berbagai jenis dan jenjang pendidikan; (b) besarnya anggaran pemerintah untuk pendidikan, bagaimana anggaran itu dialokasikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, dan apakah dana itu digunakan sesuai dengan kebutuhan; (c) jumlah dana pendidikan dari berbagai sumber dan pengaruhnya terhadap pengeluaran total di sekolah; (d) pengeluaran pada berbagai jenis sekolah.
Alokasi sumber-sumber daya pendidikan, proses pendidikan melibatkan produksi output-output dari himpunan input. Teknik-teknik analisis sistim dapat dipakai untuk mengevaluasi berfungsinya institusi-institusi pendidikan dan meneliti kemungkinan-kemungkinan efisiensi. Analisis pembiayaan antara lain dilihat dari aspek (1) identifikasi kebutuhan yang berhubungan dengan pembiayaan besarnya kebutuhan; (2) enrollment tentang kebutuhan setiap peserta didik; (3) jenis kebutuhan setiap peserta didik; (4) kebutuhan sarana dan prasarana; (5) biaya program. Program yang berat akan lain dengan program yang ringan. Alokasi kebutuhan penyelenggaraan program-program sekolah seperti keperluan operasional pengajaran, operasional adminstrasi dan perkantoran, operasional laboratorium, operasional perpustakaan, perawatan dan pemeliharaan, penggantian barang-barang keperluan mendesak, kebersihan dan kesehatan dapat diidentifikasi oleh kepala sekolah bersama masyarakat dan pemerintah untuk mencari solusi sehingga memenuhi keperluan yang dibutuhkan tersebut. Mengharapkan manajemen sekolah yang baik dan berkualitas tentu harus didukung ketersediaan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan organisasi sekolah.
a. Kebutuhan Peserta Didik
Memperlancar belajar peserta didik adalah dengan memenuhi kebutuhan belajarnya. Ada kebutuhan yang dapat disediakan oleh orang tua tetapi ada juga yang harus disediakan oleh pemerintah yang diberikan ke sekolah.
b. Perlengkapan dan Peralatan
Perlengkapan pendidikan di sekolah adalah semua benda bergerak maupun tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Perlengakapan dan peralatan sekolah dipersiapkan untuk tiga komponen kegiatan yaitu (1) keperluan manajemen dan admistrasi ketatausahaan; (2) keperluan guru mengajar; dan (3) keperluan peserta didik belajar.
Investasi perlengakapan pendidikan diarahkan kepada ketiga komponen dimaksud dan kegiatan pengelolaan perlengkapan pendidikan meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, investarisasi, pemeliharaan dan penghapusan. Dalam mengelola fasilitas agar mempunyai manfaat yang tinggi diperlukan arahan yang jelas, yang diperlukan jangan sampai membeli barang atau perlengakapan yang sebenarnya tidak begitu diperlukan, sementara yang benar-nenar diperlukan malah terabaikan.
c. Pemeliharaan dan Perawatan
Investarisasi perlengkapan kegiatan melaksanaknan pengurusan penyelenggaraan, pengaturan, dan pencatatan barang perlengkapan yang menjadi milik sekolah. Investaris adalah suatu dokumen berisis jenis dan jumlah barang bergerak maupun tidak bergerak menjadi milik dan dikuasai sekolah. Dokumen tersebut sebagai alat control untuk melakukan pemeliharaan dan perawatan peralatan dan perlengakapan sekolah, sehingga dilihat dari segi penggunaan anggaraan tidak ada dana yang over lapping atau tumpang tindih dalam membelanjakannya. Barang-barang yang sudah ada diterima, dicatat, digunakan, diatur, dirawat, dan dijaga secara tertib rapih dan aman. Secara berkala atau incidental diadakan pengontrolan dan perhitungan baranmg persediaan agar diketahui apakh masih sesuai.
d. Sarana dan Prasarana
Ketersediaan biaya untuk sarana dan prasarana sekolah merupakan indicator yang cukup berpengaruh terhadap KBM. Anggaran belanja sekolah diperlukan untuk perbaikan saran prasarana seperti merawat san memperbaiki ruang kelas serta ruang kantor, merawat dan memperbaiki lapangan olahraga dan lain-lain.
Menurut Indriyanto (1998) terdapat 2 fenomena yang dapat diamati berkenaan dengan keterssediaan sarana dan p;rasarana sekolah yakni; (1) fenomena keterbatasan yaitu keterbatasan sarana dan prasaran merupakan salah satu factor yang menonjol dalam pelaksanaan kebijakan dan program sekolah yang berada di perkotaan apalagi yang di pedesaan. Keterbatasan ketersediaan sarana dan prasarana tidak saja terjadi pada tingkat sekolah tetapi juga pada dinas pendidikan di tingkat kabupaten/kota maupun kecamatan; dan (2) pemanfaatan yaitu dilain pihak, unit-unit kerja dan sekolah yang telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai ternyata kurang memanfaatkannya. Hal ini terjadi karena ketersediaan sarana dan prasarana tidak dilihat dari fungsinya, tetapi sebagai simbol status, tidak dilakukan dengan pertimbangan persyaratan yang diperlukan tetapi dilakukan dengan tingkat ketersediaan dana. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana tidak dapat menjamin kualitas pelayanan belajar yang menunjang efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan sekolah.
e. Gaji guru
Charles S. Benson (1945) mengatakan mengajar sekolah public tetap merupakan suatu panggilan dengan plafon gaji relative kecil disbanding bidang-bidang lain yang memperkerjakan lulusan college. Penerimaan gaji guru di berlakukan perbedaan pendidikan antara diplomat dengan saarjana dengan pasca sarjana, yang mengikuti training atau tidak dan pengalaman kerja, diperkirakan dapat meningkatkan kinerja kependidikan. Namun perbedaan pengganjian guru sebagai PNS di Indonesia adalah golongan dan lama bekerja karena ada kenaikan gaji berkala setiap 2 tahun bagi PNS. Secara riel selisi perbedaan gaji tingkat golongan mat tipis tidak mencapai 15% dari masing-masing tingkat golongan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sehubungan dengan uraian pada pembahasan diatas dapat disimpulkan:
1. Biaya pendidikan dapat dikatakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan pendidikan. Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang bermutu juga tidak terlepas dari perencanaan anggaran yang mantap, alokasi yang tepat sasaran dan efektif sehingga membuat seluruh komponen lembaga pendidikan tersebut bersinergi dan memberikan hasil yang optimal dalam pencapaian tujuan.
2. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa analisis manfaat biaya pendidikan menjadi bahan perhatian yang penting bagi pemerintah, masyarakat, dan para penyelenggara pendidikan untuk menentukan langkah progresif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
3. Investasi pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan dan percepatan pembangunan.
B. Saran
Pendidikan yang baik tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi tidak tepat jika ada istilah pendidikan harus murah. Pendidikan murah hanya akan menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak berkualitas. Yang manjadi masalah adalah biaya pendidikan sekolah itu dibebankan kepada siapa, apakah orangtua, masyarakat atau pemerintah. ataukah bersama secara proporsional.
Oleh karena itu program Pendidikan Gratis haruslah dimaknai semua biaya untuk kebutuhan itu dihitung dan dibiayai oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah.
Dalam pelaksanaan biaya-biaya Sarana-prasarana, gaji dan operasional harus diberikan langsung lepada sekolah, sedangkan biaya pengembangan mutu dikelola oleh dinas dan UPK/UPT non sekolah secara proporsional.
Pendidikan gratis dalam pelaksanaan juga dapat diartikan Pendidikan Gratis bagi Anak Kurang Mampu serta Anak Berbakat, sehingga dalam pelaksanaan terjadi pembiayaan subsidi silang. Dimana warga masyarakat yang mampu baik secara perorangan atau lembaga membantu kelompok lain. Pelaksanaan model yang demikian lebih menyentuh rasa keadilan.
Apabila program Pendidikan gratis tidak mempertimbangkan hal-hal tersebut, akan dapat memunculkan ketidak adilan, stagnasi mutu dan menurunnya kondusivitas iklim pendidikan. Dan itu sangat berbahaya akibatnya dalam jangka waktu panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Fattah, Nanang. 2002. Ekonomi & Pembiayaan Pendidikan. Bandung: PT.Rosda Karya.
Hallak, J. 1985. Analisis Biaya dan Pengeluaran Untuk Pendidikan. Paris: International Institute For Planning, UNbf ESCO.
Supriadi, Dedi. 2003. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah.Bandung: PT.Rosda Karya.
Prof. Dr. Dedi Supriadi. 2003. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
KARAKTERISTIK ILMU EKONOMI
A . Ilmu Ekonomi :
_ whar ( barang apa )?
_ how ( bagaimana )
_ for whom ( untuk siapa )?
B. Ilmu Ekonomi :
_ analisa
_ kecenderungan
_ harga
_ hasil produksi
_ pengangguran
_ perdagangan
C. Ilmu Ekonomi :
_ uang
_ perbankan
_ modal ( capital )
_ kekayaan ( asset ).
SUMBER DAYA EKONOMI :
_ sumber daya alam
_ sumber daya manusia
_ sumber daya modal
_ sumber daya manajemen
_ sumber daya lingkungan.
PROSES EKONOMI :
_ produksi
_ Keuangan
_pemasaran
_personalia
_ riset dan teknologi
KONSEP DASAR EKONOMI :
_ bagaimana dengan ilmu ekonomi
_ bagaimana dengan sumber daya yang ada
_ bagaimana dengan pembangunan Nasional
KONSEP INVESTASI SDM :
1. pendidikan
2. produktifitas
3. pertumbuhan ekonomi.
EKONOMI PENDIDIKAN adalah suatu studi tentang bagaimana manusia baik secara perorangan maupun secara kelompok masyarakat membuat keputusan dalam rangka mendayagunakan sumber daya yang terbatas agar dapat menghasilkan berbagai bentuk pendidikan.
ASPEK POTENSI EKONOMI :
a. meningkatkan ekoonomi rumah tangga :
1. perubahan pola nafkah
2. tersedianya kebutuhan barang dan jasa
3. meningkatkan pendapatan
4. terbukanya lapangan kerja
5. tersedianya sarana dan prasarana.
b. menggali, mengatur, dan menggunakan SDA:
1. pemilikan dan penguasaan SDA yang teratur
2. penggunaan yang efisien dan efektif
c. meningkatkan perekonomian pemerintah baik local maupun regional :
1. menambah peluang dan kesempatan kerja
2. menambah jumlah dan aktifitas ekonnomi
3. pemerataan pendistribusian pendapatan
4. menimbulkan efek ganda ekonomi
5. peningkatan produk domestic
6. peningkatan pendapatan asli daerah ( PAD ).
d. pengembangan wilayah :
1. meningkatkan pemerataan pembangunan
2. meningkatkan persatuan dan kesatuan
3. terbukanya lingkungan pergaulan
4. membuka isolasi wilayah.
ASPEK SOSIAL :…..WHILL….KESEJAHTERAAN
a. perubahan demografi :
1. perubahan struktur penduduk
2. perubahan tingkat kepadatan penduduk
3. pertumbuhan penduduk
4. perubahan komposisi tenaga kerja.
b. perubahan budaya :
1. adat istiadat, nolai dan norma budaya
2. terjadinya proses sosial
3. perubahan pelapisan sosial
4. pendidikan, pekerjaan, kekuasaan
5. perubahan sikap dan persepsi
c. perubahan kesehatan masyarakat :
1. perubahan parameter lingkungan
2. perubahan pencemaan lingkungan
3. timbulnya penyakit
4. perubahan status gisi masyarakat.
METODE PENILAIAN POTENSI EKONOMI :
1. metode penilaian hasil value
2. metode perbandingan biaya
3. metode analisis ekonomi
PEMILIHAN TEKNOLOGI :
1. ketetapan teknologi
2. keberhasilan teknologi di tempat lain
3. pertimbangan teknologi lanjutan
4. besarnya biaya investasi
5. kemampuan tenaga kerja.
INVESTASI adalah merupakan pengorbanan sejumlah nilai tertentu saat ini untuk memperoleh nilai ( pengembalian ) dengan harapan lebih besar dari nilai saat ini.
MANFAAT INVESTASI :
1. pembentukan keterampilan
2. kebutuhan ekonomi tenaga kerja
3. memperoleh nilai pengembalian.
DUA HAL PERTIMBANGAN DALAM INVESTASI DUNIA PENDIDIKAN :
1. investasi hendaknya menghasilkan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.
2. nilai guna suatu keterampilan merespon kebutuhan ekonomi tenaga kerja menurut jenis pendidikan .
ANALISIS TINGKAT BALIK ( rate of return ) yaitu membandingkan produktifitas dari tenaga kerja terdidik dengan tenaga kerja yang tidak terdidik.
SUMBER BIAYA PENDIDIKAN :
1. individu ( perorangan )
2. masyarakat
3.pemerintah
ASPEK KEUANGAN INVESTASI, SUMBER DANA :
1. perbankan
2. lembaga keuangan lain
3. modal sendiri.
KOMPONEN BIAYA INVESTASI :
a. biaya pra investasi:
1. biaya pembuatan studi…; harus mempertimbangkan aspek – aspek sosial terutama dalam aspek perubahan budaya.
2. biaya pengurusan izin – izin
b. biaya pembelian aktiva tetap :
1. tanah
2. mesin
3. bangunan
4. peralatan
5. inventaris kantor.
c. biaya operasional :
1. upah gaji
2. biaya listrik
3. biaya telepon
4. biaya pemeliharaan
5. pajak
6 premi asuransi, dan lain – lain.
KOMPENSASI :
a. uang……; gaji
b. material misalnya :
_ upah memetik pohon kelapa
_ menggarap sepetak sawah
c. fasilitas :
_ fasilitas balas jasa
_ fasilitas kesehatan
_ fasilitas antar jemput
_ fasilitas makan siang, dan – lain
SASARAN PEMBERIAN KOMPENSASI :
a. sumber nafkah
b. meningkatkan prestasi kerja
c. meningkatkan harga diri
d. mempererat hubungan kerja
e. meningkatkan disiplin kerja
f. mempermudah mencapai tujuan.
FAKTOR YANG DAPAT DIJADIKAN ACUAN PEMBERIAN KOMPENSASI :
1. pendidikan dan pengalaman
2. jumlah tanggungan
3. beban tugas
4. tingkat dan biaya hidup
5. tingkat kompensasi yang berlaku.
DASAR PEMBERIAN KOMPENSASI :
1. berdasarkan kesatuan volume
2. satuan waktu pekerjaan
3. berdasarkan penilaian kerja.
SISTEM PEMBAYARAN UPAH :
1. system upah menurut waktu :
a. keuntungan :
_ tenaga kerja tidak terburu – buru
_ tenaga kerja yang kurang terampil dapat memberi ketenangan dan kemampuan ddalam bekerja.
b. kekurangan :
_ tenaga kerja yang lebih terampil akan mengalami kekecewaan.
_ adanya kecenderunganpara tenaga kerja untuk bekerja lamban.
2. system upah menurut unit hasil :
a. keuntungan :
_ tenaga kerja yang terampil akan mempunyai semangat kerja yang tinggi.
_ kecendeerungan para tenaga kerja berlomba bekerja dengan penuh semangat
b. kekurangan :
_ tenaga kerja bekerja terburu – buru
_ Tenaga kerja yang bekerja terampil akan mengalami kekecewaan
3. system upah dengan intensif.
Waktu lamanya mereka bekerja dan unit hasil ( output ) mereka selesaikan ditambah dengan intensif ( tambahan upah ) :
a. upah bertingkat menurut waktu :
_ upah Rp. 3500 / jam dalam 1 jam menghasilkan 100 menit.
_ upah Rp. 4000 / jam dalam 1 jam menghasilkan 101 sampai 150 menit
_ upah Rp. 4500 / jam dalam 1 jam menghasilkan lebih 150 menit.
b. upah bertingkat menurut unit hasil :
_ upah Rp. 7500 / unit dalam 1 jam mampu menghasilkan 100 unit.
_ upah Rp. 8500 / unit dalam 1 jam mampu menghasilkan 101 sampai 150 unit.
_ upah Rp. 9500 / unit dalam 1 jam mampu menghasilkan lebih 150 unit.
EFISIENSI KOMPENSASI PENDIDIKAN adalah pendayagunaan sumber – sumber pendidikan yang ada.
JENIS KEBIJAKAN EFEISIENSI.
1. menurunkan biaya operasional
2. Memberikan biaya prioritas
3. meningkatkan kapasitas pemakaian
4. Meningkatkan motivasi kerja
5. memperbaiki rasio
ANGGARAN PENDIDIKAN adalah rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan yang dinyatakan dalam unti moneter dan berlaku untuk jangka waktu periode tertentu yang akan dating.
UNSURE BUDGET ( anggaran ):
1. rencana
2. kegiatan
3. unit moneter
4. waktu
BUDGETTING ( penganggaran ) adalah proses kegiatan yagn menghasilkan budget tersebut sebagai hasil kerja output.
FACTOR – FACTOR YANG MEMPENGARUHI ANGGARAN
1. luas wilayah/pasar penjualannya
2. posisi organisasi/perusahaan
3. jenis produk yang dihasilkan
4. tersedianya data dan informasi
5. keadaan perekonomian
KEGUNAAN ANGGARAN
1. sebagai pedoman kerja
2. sebagai alat pengkoordinasian kerja
3. sebagai alat pengawasan kerja
FACTOR YANG MEMPENGARUHI PENYUSUNAN ANGGARAN
a. factor intern:
1. pendapatan tahun – tahun yang lalu
2. kebijaksanaan organisasi
3. kapasitas produksi
4. modal kerja yang dimiliki
5. fasilitas lain yang dimiliki
b. factor ekstern
1. keadaan persaingan
2. Tingkat pertumbuhan penduduk
3. tingkat penghasilan masyarakat
4. tingkat pendidikan masyarakat
5. tingkat penyebaran penduduk
6. agama, adat – istiadat
7. kebijaksanaan pemerintah
8. keadaan perekonomian
TAHAPAN PENYUSUNAN ANGGARAN
1. mengidentifikasi kegiatan
2. mengidentifikasi sumber
3. semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang
4. memformulasikan
5. menyususn usulan anggaran
6. melaksanakan revisi
7. persetujuan revisi.
8. pengesahan anggaran
RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA SEKOLAH ( RAPBS )
komponen kebutuhan :
1. penignkatan kegiatan PBM 15%
2. belanja alat teknis ATK 10%
3. pemeliharaan dan penggantian sarana pendidikan 10%
4. peningkatan pembinaan kegiatan siswa 15%
5. Kesejahtraan 25%
6. rumah tangga sekolah 10%
7. biaya pembinaan 20%
PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN
1. mempertimbangkan ( melihat tujuan organisasi )
2. melihat besarnya kebutuhan.
Pengawasan manajemen pada aspek ekonomi pendidikan
Pengengendalian :
1. pusat pendapatan
2. pusat biaya
3. pusat investasi
Pusat pengawasan .kuantitatif -keuntungan
-pendapatan
-biaya
-investasi
Pengukuran kualitatif : bentuknya berupa persepsi/analisa yang berkaitan dengan kuantitatif
SISTIM PENGAWASAN
Standar sistim pengawasan keuangan
Status sistim wewenang
Penilaian sistim pengawasan jasa
Perbaikan sistim pengawasan kualitaas
Sistim pengawasan persediaan
SKEMA KEGIATAN
Input proses output
UNSUR PROSES PENGAWASAN
1. unsure proses
2. unsure adanya objek pengawasan
3. ukuran atau standarisasi
4. teknik pengawasan
LANGKAH ATAU TAHAPAN
1. penetapan standar atau patokan
2. mengukur dan membandingkan
3. mengidentifikasi penyimpangan ( defiasi )
4. menentukan tindakan perbaikan atau koreksi
Rabu, 06 April 2011
makalah teori belajar
thanks to SUSRIANTI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang vital. Mengajar adalah proses pembimbing kegiatan belajar, bahwa kegiatan mengajar hanya bermakana apabila terjadi kegitan belajar murid. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar murid, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi murid-murid. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as demodification or strengthening of behavior through experiencing).
Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegitan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan sutu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lama tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis dan seterusnya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana prinsip-prinsip teori belajar perilaku?
2. Bagaimana konsep teori belajar sosial?
1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka kita dapat mengambil manfaat sebagai tujuan. Adapun tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Agar mengetahui prinsip-prinsip teori belajar perilaku
2. Agar mengetahui konsep teori belajar sosial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Prinsip-Prinsip Teori Belajar Perilaku
Ada beberapa prinsip yang melandasi teori-teori perilaku akan diuraikan dibawah ini:
2.1.1. Konsekuensi-konsekuensi
Prinsip yang paling penting dari teori belajar perilaku ialah, bahwa prinsip perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung. Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan “memperkuat” perilaku, Sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan “melemahkan” perilaku. Bila seekor tikus yang lapar menerima makanan waktu ia menekan sebuah papan, tikus itu akan menekan papan itu lebih kerap kali. Tetpi bila tikus itu menerima denyutan listik, tikus itu akan menekan papan itu makin berkurang, atau berhenti sama sekali.
Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan pada umumnya disebut reinfoser, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punishers).
Reinfosrser-reinforser
Reinfoser-reinfoser dapat dibagi menjadi dua golongan: primer dan skunder. Reinforser primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia,misalnya: makanan, air, keamanan, kemesraan dan seks.
Reinforser sekunder merupakan reinforser yang memperoleh nilainya setelah diasosiasikandengan reinforser primer atau reinforser sekunder lainya yang sudah mantap. Uang baru mempunyai nilai bagi seorang anak bila ia mengetahui, bahwa uang itu dapat digunakanya untuk membeli makanan, misalnya. Angka-angka dalam raporbaru mempunyai nilai bagi siswa, bila orang tuanya memberikan perhatian dan penilaian, dan pujian orang tua mempunyai nilai sebab pujian itu terasosiasi dengan kasih sayang, kemesraan, dan reinforser-reinforser lainya. Uang dan anngka rapor adalah contoh-contoh reinforser sekunder, sebab keduanya tidak mempunyai nilai sendiri, melainkan baru mempunyai nilai serelah diasosiasikan dengan reinforser primer atau reinforser primer atau reinforser sekunder lainya yang lebih mantap. Ada tiga kategori dasar reinforser sekunder. Yaitu reinforser social (seperti pijian, senyuman, atau perhatian), reinforser aktivitas (seperti pemberian mainan,atau kegitan-kegiatan yang menyenangkan), dan reinforser simbolik (seperti uang, angka, bintang, atau point yang dapat ditukarkan untuk reinforser-reinforser lainya).
Kerap kali reinforser-reinforser yang digunakan disekolah merupakan hal-hal yang diberikan kepada siswa-siswa. Reinforser-reinforser ini disebut reinforser positif, dan berupa pujian, angka dan bintang. Tetapi, ada kalanya untuk memperkuat perilaku ialah denghan membuat konsekuensi perilaku suatu pelarian dari situasi yang tidak menyenangkan. Misalnya, seorang guru dapat membebaskan para siswa dari pekerjaan rumah dianggap sebagai suatu tugas yang tidak menyenangkan, maka bebas dari pekerjaan rumah ini merupakan reinforser. Reinforser-reinforser yang berupa pelarian dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan disebut reinforser negatif.
Suatu prinsip perilaku penting ialah, kegitan yang kurang diingini dapat ditingkatkan dengan menggabungkanya pada kegitan-kegiatan yang lebih disenagi atau didingini. Misalnya, seorang guru berkata pada muridnya: “ Jika kamu telah selesai mengerjakan soal ini, kamu boleh keluar,”atau”Bersihkan dahulu mejamu, nanti Ibu bacakan cerita.” Kedua contoh ini merupakan contoh-contoh dari suatu prinsip yang dikenal dengan nama prinsip premack (Premack, 1965). Para guru dapat menggunakan prinsip premack ini dengan menggabungkan kegitan-kegiatan yang lebih menyenangkan dengan kegiatan-kegiatan yang kurang menyenangkan, dan membuat partisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan tergantung pada penyelesaian sempurna dari kegiatan-kegiatan yang kurang menyenangkan.
Hukuman
Konsekuensi-konsekuensi yang tidak memperkuat perilaku disebut hukuman. Patut diperhatikan perbedaan antara reinforsemen negative (memperkuat perilaku yang diinginkan dengan menghilanhkan konsekuensi yang tidak menyenangkan) dan hukuman, yang bertujuan mengurangi perilaku dengan menghadapkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan.
Para teoriwan perilaku berbeda mengenai hukuman ini. Ada yang berpendapat, bahwa efek hukuman itu hanya temporer, bahwa hukuman menimbulkan sifat menentang atau agresi. Ada pula teoriwan-teoriwan yang tidak setuju dengan pemberian hukuman. Tetapi termasuk mereka yang mendukung penggunaan hukuman ini, pada umumnya mereka setuju bahwa hukuman itu hendaknya dugunakan, bila reinforsemen telah dicoba dan gagal, dan bahwa hukuman diberikan dalam bentuk selunak mungkin dan hukuman selalu digunakan sebagai bagian dari suatu perencanaan yang teliti, tidak dilakukan karena frustasi.
2.1.2. Kesegaran (immediacy) konsekuensi-konsekuensi
Salah satu prinsip dalam teori belajar perilaku ialah bahwa konsekuensi-konsekuensi yang segera mengikuti perilaku akan lebih mempengaruhi perilaku dari pada konsekuensi-konsekuensi yang lambat datangnya. Prinsip konsekuansi-konsekuensi ini penting artinya dalam kelas. Khususnya bagi murid-murid sekolah dasar, pujian yang diberikan segera setelah anak itu melakukan suatu pekerjaan dengan baik, dapat merupakan suatu reinforser yang lebih kuat dari pada angka yang diberikan kemudian.
2.1.3. Pembentukan (Shaping)
Selain kesegaran dari reinforsemen, apa yang akan diberi reinforsemen, juga perlu diperhatikan dalam mengajar. Bila guru membimbing siswa menuju pencapaian tujuan dengan memberikan reinforsemen pada langkah-langkah yang menuju pada keberhasilan, maka guru itu menggunakan teknik yang disebut pembentukan. Istilah pembentukan “shaping” digunakan dalam teori-teori belajar perilaku dalam mengajarkan ketermpilan-keterampilan baru atau perilaku-perilaku dengan memberikan reinforsemen pada para siswa dalam mendekati perilaku akhir yang diinginkan.
Ringkasan dari langkah-langkah pembentukan dari perilaku baru adalah sebagai berikut:
1. Pilih tujuan , buat tujuan itu sekhusus mungkin.
2. Tentukan sampai dimana siswa-siswa itu sekarang. Apakah kemampuan-kemampuan mereka?
3. Kembangkan satu seri langkah-langkah yang dapt merupakan jenjang untuk membawa mereka dari keadaan mereka sekarang ketujuan yang telah ditetapkan. Bahi sebagian siswa langkah-langkah itu mungkin terlalu besar, untuk sebagian lagi mungkin terlalu kecil. Ubahlah langkah-langkah itu sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
4. Berilah umpan balik selama pelajaran berlangsung. Perlu diingat, makin baru materi pelajaran, makin banyak umpan balik dibutuhkan para siswa.
2.2. Teori Belajar Sosial
Teori belajar social menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang, tidak random,lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya. Suatu perspektif belajar social menganalisis hubungan kontinu antara variabel-variabel linhkungan ciri-ciri pribadi, dan perilaku terbuka dan tertutup seseorang. Perspektif ini menyediakan interprestasi-interprestasi tentang bagaimana terjadi belajar social, dan bagaimana kita mengatur perilaku kita sendiri. Suatu pembahasan tentang konsep-konsep utama dari teori belajar social akan diberikan dalam bagian berikut.
2.2.1. Pemodelan (Modelling)
Bandura memperhatikan bahwa bahwa penganut-penganut Skinner member penekanan pada efek-efek dari konsekuensi-konsekuensi pada perilaku, dan tidak mengindahkan fenomena pemodelan, yaitu meniru perilaku orang lain, dan pengalaman Vicarious, yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain. Ia merasa bahwa sebagian besar belajar yang dialami manusia tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi, melainkan manusia itu belajar dari suatu model. Guru-guru olahraga mendemonstrasikan loncat tinggi, dan para siswa menirunya. Bandura menyebut ini no-trial learning, sebab para siswa tidak harus melalui proses pembentukan (shapping process), tetapi dapat segera menghasilkan respons yang benar.
2.2.2. Fase Belajar
Menurut Bandura ada empat fase belajar dari model,yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase peproduksi (reproduction phase), dan fase motivasi (motivational phase).
a. Fase perhatian
Fase pertama dalam belajar teori observasional ialah memberikan perhatian pad suatu model. Pada umumnya, para siswa memberikan perhatian pada model-model yang menarik, berhasil, menimbulkan minat dan popular. Inilah sebabnya banyak para siswa meniru pakaian, tata rambut, dan sikap-sikap bintang film misalnya.
Dalam kelas guru akan memperoleh perhatian dari para siswa, dengan menyajikan isyarat-isyarat yang jelas dan menarik (misalnya dengan berkata ”Nah, perhatikan bagaiman Ibu mengatakan jumlah atom oksigen dalam molekul oksigen, dan jumlah molekul oksigen yang bereaksi”. Perhatikan siswa juga akan diperoleh dengan menggunakan hal-hal yang baru, aneh, atau tak terduga, dan dengan memotivasi para siswa agar menaruh perhatian (misalnya dengan berkata, “dengarkan baik-baik, ini akan muncul dalam ujian minggu depan”).
b. Fase Retensi
Belajar observasional terjadi berdasarkan kontiguitas. Dua kejadian contiguous yang diperlukan ialah perhatian pada penampilan model dan penyajian simbolik dari penampilan itu dalam memori jangka panjang (1977 :29)
Observes who code modelled activities into either words, concise labels, or vivid imagery learn abd retain behaviour better than those who simply observe or are mentally preoccupled with other matters while watching”
Dari apa yang dikemukakan oleh oleh bandura ini terlihat betapa pentingnya peranan kata-kata, nama-nama, atau bayangan yang kuat yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang dimodelkan dalam mempelajari dan mengingat perilaku.
Perlu kita ketahui bahwa, materi pelajaran akan lam diingat, bila pengulangan terbuka terjadi. Tetapi pengulangan tidak selalu harus terbuka. Pengulangan tertutup dari perilaku yang dipelajari melalui belajar observasional kerap kali dilakukan oleh para mahasiswa calon guru yang mempersiapkan pelajaran mereka yang pertama. Dari guru pamong atau guru model, mahasiswa itu belajar bagaimana berdiri dimuka kelas, bagaimana memberikan pelajaran pendahuluan, menuliskan konsep-konseo atau kata-kata baru dipapan tulis, memberikan giliran pada siswa-siswa, memberikan rangkuman, dan lain-lainya. Sebelum mahasiswa itu memberikan pelajaranya, dalam pikiranya ia membayangkan pelajaranya, dalam pikiranya ia membayangkan persiapan yang telah dibuatnya. Pengulangan tertutup semacam ini menolong mahasiswa itu mengingat unsur-unsur pokok dari pola perilaku yang harus dikuasai.Pengulangan tertutup ini menolong terbentuknya kesesuaian antara perilaku mahasiswa itu dan perilaku model.
c. Fase Reproduksi
dalam fase ini bayangan (imagery) atau kode-kode simbolik verbal dalam memori membimbing penampilan yang sebenarnaya dari perilaku yang baru diperoleh. Telah ditemukan, bahwa derajat ketelitian yang tertinggi dalam belajar observasional terjadi, bila tindakan terbuka mengikuti pengulangan secara mental (mental rehearsal).
Fase reproduksi mengijinkan modl atau instuktur untuk melihat apakah komponen-komponen suatu urutan perilaku telah dikuasai oleh yang belajar. Ada kalanya hanya sebagian dari suatu urutan perilaku yang diberi kode yang benar dan dimiliki. Misalnya seorang guru mungkin menemukan setelah memodelkan prosedur-prosedur untuk memecahkan persoalan kuadrat, bahwa beberapa siswa hanya dapat memecahkan sebagian dari persamaan itu. Mereka mungkin membutuhkan pertolongan dalam menguasai seluruh urutan untuk memecahkan persamaan kuadrat itu. Kekurangan penampilan hanya dapat diketahui, bila siswa-siswa diminta untuk menampilkan. Itulah sebabnya fase reproduksi diperlukan. Perlu disebut pentingnya arti umpan balik yang bersifat memperbaiki untuk membentuk perilaku yang diinginkan. Sebagian besar dari psikologi operant mempersoalkan reiforsemen dan hukuman, yang telah kita kenal efeknya terhadap perilaku. Tetapi sebagian besar dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh guru tidak berupa reinforsemen maupun hukuman- hanya bersifat informatif. Mengetahui hasil, umpan balik sederhana, mempunyai efek yang kuat terhadap perilaku berikutnya. Bila seorang siswa telah melihat, memberikan kode, dan mengurangi, dan kemudian mencoba menulis huruf besar “A”, mencoba melakukan loncat jauh, atau mencoba menyusun pantun, guru model hendaknya memberikan umpan balik pada siswa-siswa itu. Umpan balik ini dapat ditujukan pada aspek-aspek yang benar dari penampilan, tetapi, yang lebih penting ialah ditujukan pada aspek-aspek yangb salah dari penampilan. Secara cepat member tahu siswa tentang respons-respons yang tidak tepat sebelum berkembang kebiasaan-kebiasaan yang tidak diinginkan, merupakan pelaksanaan pengajaran yang baik. Umpan balik perbaikan semacam ini jangan dianggap sebagai hukuman. Umpan balik sedini mungkin dalam fase reproduksi merupakan suatu variabel penting dalam perkembangan penampilan keterampilan pada yang diajar.
d. Fase Motivasi
Fase terakhir dalam proses belajar observasional ialah fase motivasi. Para siswa akan meniru suatu model, sebab mereka merasa, bahwa dwngan berbuat demikian mereka akan meningkatkan kemungkinan untuk memperoleh reinforsemen.
Dalam kelas, fase motivasi dari belajar observasional kerap kali terdiri atas pujian atau angka untuk penyesuaian dengan model guru. Para siswa memperhatikan model itu, melakukan latihan, dan menampilkanya, sebab mereka mengetahui, bahwa inilah yang disukai guru, dan menyenangkan guru.
2.2.3. Belajar Vicarious
Telah kita ketahui, bahwa sebagian besar dari belajar observasional termotivasi oleh harapan bahwa meniru model dengan baik akan menuju pada reinforsemen. Tetapi ada orang yang belajar dengan melihat orang diberi reinforsemen atau hukuman waktu terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. Inilah yang disebutt dengan “Vicarious”.
Guru-guru dalam kelas selalu mengunakan prinsip belajar vicarious. Bila seorang murid berkelakuan tidak baik, dan memuji mereka karena pekerjaan mereka yang baik itu. Anak yang nakal itu melihat, bahwa bekerja memperoleh reinforsemen, karena itu ia pun kembali bekerja.
2.2.4. Pengaturan-sendiri
Konsep penting lainya dalam belajar observasional ialah pengaturan sendiri atau “self-regulation”. Bandura berhipotesis, bahwa manusia mengawasi perilakunya sendiri, mempertimbangkan (judge) perilaku itu terhadap criteria yang disusunya sendiri, dan kemudian memberi reinforsemen atau hukuman pada dirinya sendiri. Kita semua mengetahui, bila kurang dari pada yang sebenarnya. Untuk dapat membuat pertimbangan-pertimbangan (judgments) ini kita harus mempunyai harapan tentang penampilan kita sendiri. Seorang siswa mungkin sudah merasa senang sekali memperoleh 90% betul dalam situ tes, tetapi anak yang lain mungkin sangat kecewa.
Yang menjadi pertanyaan ialah , dimana kita memperoleh kriteri yang kita gunakan untuk mempertimbangkan penampilan kita? Kadang-kadang pertimbangan ini timbul sendiri seperti seorang pelukis, penulis, atau seorang guru bekerja berulang kali untuk memperoleh sebuah lukisan, karangan, atau suatu pelajaran yang baik. Tetapi teori belajar social mengemukakan, bahwa sebagian besar dari criteria ya ng kita miliki untuk penampilan kita, kita pelajari, sperti banyak hal-hal lain, dari model-model dalam dunia social kita. Kita belajar banyak dengan dihadapkan pada model-model. Bila kita memperhatikan perilaku model, dan menciptakan kode-kode imagery bagi apa yang telah kita amati, kita akan belajar dari model itu. Baik pengulangan terbuka maupun pengulangan tertutup menolong kita untuk dapat memiliki perilaku baru yang kita pelajari. Pada suatu saat kita harus mencoba mereproduksi perilaku model itu. Umpan balik untuk memperbaiki, diberikan jauh sebelum fase reproduksi belajar dari model-model, mempunyai efek yang kuat dari perilaku. Reinforsemen dan hukuman yang ditimbulkan sendiri secara langsung dan dialami secara vicarious, menentukan sejauh mana perilaku yang baru itu akan ditampilkan. Dalam pandangan belajar social, belajar dan penampilan adalah dua fenomena yang berbeda.
Respons-respons kognitif kita terhadap perilaku kita sendiri mengizinkan kita untuk mengatur perilaku kita sendiri. Dengan mengamati, kita mengumpulkan data tentang renpons-respons kita. Melalui standar-standar penampilan yang sudah terinternalisasi, kerap kali dipelajari melalui observasi, kita pertimbangkan perilaku kita. Dengan member hadiah atau menghukum kita sendiri, kita dapat mengendalikan perilaku kita secara efektif. Kita tidak perlu dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan lingkungan atau keinginan-keinginan yang datang dari dalam. Ketika dapat belajar menjadi manusia social yang berkpribadian. Dengan menerapkan gagasan-gagasan dari teori belajar social pada diri kita sendiri, kita dapat menjadi guru dan siswa yang lebih baik.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Teori belajar sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional. Teori ini dikembangkan oleh Albert bandura (1966). Teori ini menerima sebagian besar prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, teteapi memberikan lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam teori belajar sosial kita belajar dari orang lain. Melalui observasi tentang dunia social kita, melalui interprestasi kognitif dari dunia itu, banyak sekali informasi dan penampilan-penampilan keahlian yang kompleks dapat dipelajari.
Dalam pandangan belajar social “manusia itu tidak dididorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam, dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan” (bandura,1977 :27).
3.2. Saran
Diharapkan dalam proses belajar mengaajar agar menerapkan gagasan-gagasan dari teori belajar social pada diri kita sendiri, karena dengan itu, kita dapat menjadi guru dan siswa yang lebih baik. dalam teori belajar sosial kita belajar dari orang lain. Oleh karena itu kita harus belajar banyak dari penampilan-penampilan yang kompleks dari orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dahar Wilis Ratna. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta, Erlangga
Hamalik Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang vital. Mengajar adalah proses pembimbing kegiatan belajar, bahwa kegiatan mengajar hanya bermakana apabila terjadi kegitan belajar murid. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar murid, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi murid-murid. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as demodification or strengthening of behavior through experiencing).
Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegitan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan sutu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lama tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis dan seterusnya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana prinsip-prinsip teori belajar perilaku?
2. Bagaimana konsep teori belajar sosial?
1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka kita dapat mengambil manfaat sebagai tujuan. Adapun tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Agar mengetahui prinsip-prinsip teori belajar perilaku
2. Agar mengetahui konsep teori belajar sosial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Prinsip-Prinsip Teori Belajar Perilaku
Ada beberapa prinsip yang melandasi teori-teori perilaku akan diuraikan dibawah ini:
2.1.1. Konsekuensi-konsekuensi
Prinsip yang paling penting dari teori belajar perilaku ialah, bahwa prinsip perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung. Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan “memperkuat” perilaku, Sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan “melemahkan” perilaku. Bila seekor tikus yang lapar menerima makanan waktu ia menekan sebuah papan, tikus itu akan menekan papan itu lebih kerap kali. Tetpi bila tikus itu menerima denyutan listik, tikus itu akan menekan papan itu makin berkurang, atau berhenti sama sekali.
Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan pada umumnya disebut reinfoser, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punishers).
Reinfosrser-reinforser
Reinfoser-reinfoser dapat dibagi menjadi dua golongan: primer dan skunder. Reinforser primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia,misalnya: makanan, air, keamanan, kemesraan dan seks.
Reinforser sekunder merupakan reinforser yang memperoleh nilainya setelah diasosiasikandengan reinforser primer atau reinforser sekunder lainya yang sudah mantap. Uang baru mempunyai nilai bagi seorang anak bila ia mengetahui, bahwa uang itu dapat digunakanya untuk membeli makanan, misalnya. Angka-angka dalam raporbaru mempunyai nilai bagi siswa, bila orang tuanya memberikan perhatian dan penilaian, dan pujian orang tua mempunyai nilai sebab pujian itu terasosiasi dengan kasih sayang, kemesraan, dan reinforser-reinforser lainya. Uang dan anngka rapor adalah contoh-contoh reinforser sekunder, sebab keduanya tidak mempunyai nilai sendiri, melainkan baru mempunyai nilai serelah diasosiasikan dengan reinforser primer atau reinforser primer atau reinforser sekunder lainya yang lebih mantap. Ada tiga kategori dasar reinforser sekunder. Yaitu reinforser social (seperti pijian, senyuman, atau perhatian), reinforser aktivitas (seperti pemberian mainan,atau kegitan-kegiatan yang menyenangkan), dan reinforser simbolik (seperti uang, angka, bintang, atau point yang dapat ditukarkan untuk reinforser-reinforser lainya).
Kerap kali reinforser-reinforser yang digunakan disekolah merupakan hal-hal yang diberikan kepada siswa-siswa. Reinforser-reinforser ini disebut reinforser positif, dan berupa pujian, angka dan bintang. Tetapi, ada kalanya untuk memperkuat perilaku ialah denghan membuat konsekuensi perilaku suatu pelarian dari situasi yang tidak menyenangkan. Misalnya, seorang guru dapat membebaskan para siswa dari pekerjaan rumah dianggap sebagai suatu tugas yang tidak menyenangkan, maka bebas dari pekerjaan rumah ini merupakan reinforser. Reinforser-reinforser yang berupa pelarian dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan disebut reinforser negatif.
Suatu prinsip perilaku penting ialah, kegitan yang kurang diingini dapat ditingkatkan dengan menggabungkanya pada kegitan-kegiatan yang lebih disenagi atau didingini. Misalnya, seorang guru berkata pada muridnya: “ Jika kamu telah selesai mengerjakan soal ini, kamu boleh keluar,”atau”Bersihkan dahulu mejamu, nanti Ibu bacakan cerita.” Kedua contoh ini merupakan contoh-contoh dari suatu prinsip yang dikenal dengan nama prinsip premack (Premack, 1965). Para guru dapat menggunakan prinsip premack ini dengan menggabungkan kegitan-kegiatan yang lebih menyenangkan dengan kegiatan-kegiatan yang kurang menyenangkan, dan membuat partisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan tergantung pada penyelesaian sempurna dari kegiatan-kegiatan yang kurang menyenangkan.
Hukuman
Konsekuensi-konsekuensi yang tidak memperkuat perilaku disebut hukuman. Patut diperhatikan perbedaan antara reinforsemen negative (memperkuat perilaku yang diinginkan dengan menghilanhkan konsekuensi yang tidak menyenangkan) dan hukuman, yang bertujuan mengurangi perilaku dengan menghadapkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan.
Para teoriwan perilaku berbeda mengenai hukuman ini. Ada yang berpendapat, bahwa efek hukuman itu hanya temporer, bahwa hukuman menimbulkan sifat menentang atau agresi. Ada pula teoriwan-teoriwan yang tidak setuju dengan pemberian hukuman. Tetapi termasuk mereka yang mendukung penggunaan hukuman ini, pada umumnya mereka setuju bahwa hukuman itu hendaknya dugunakan, bila reinforsemen telah dicoba dan gagal, dan bahwa hukuman diberikan dalam bentuk selunak mungkin dan hukuman selalu digunakan sebagai bagian dari suatu perencanaan yang teliti, tidak dilakukan karena frustasi.
2.1.2. Kesegaran (immediacy) konsekuensi-konsekuensi
Salah satu prinsip dalam teori belajar perilaku ialah bahwa konsekuensi-konsekuensi yang segera mengikuti perilaku akan lebih mempengaruhi perilaku dari pada konsekuensi-konsekuensi yang lambat datangnya. Prinsip konsekuansi-konsekuensi ini penting artinya dalam kelas. Khususnya bagi murid-murid sekolah dasar, pujian yang diberikan segera setelah anak itu melakukan suatu pekerjaan dengan baik, dapat merupakan suatu reinforser yang lebih kuat dari pada angka yang diberikan kemudian.
2.1.3. Pembentukan (Shaping)
Selain kesegaran dari reinforsemen, apa yang akan diberi reinforsemen, juga perlu diperhatikan dalam mengajar. Bila guru membimbing siswa menuju pencapaian tujuan dengan memberikan reinforsemen pada langkah-langkah yang menuju pada keberhasilan, maka guru itu menggunakan teknik yang disebut pembentukan. Istilah pembentukan “shaping” digunakan dalam teori-teori belajar perilaku dalam mengajarkan ketermpilan-keterampilan baru atau perilaku-perilaku dengan memberikan reinforsemen pada para siswa dalam mendekati perilaku akhir yang diinginkan.
Ringkasan dari langkah-langkah pembentukan dari perilaku baru adalah sebagai berikut:
1. Pilih tujuan , buat tujuan itu sekhusus mungkin.
2. Tentukan sampai dimana siswa-siswa itu sekarang. Apakah kemampuan-kemampuan mereka?
3. Kembangkan satu seri langkah-langkah yang dapt merupakan jenjang untuk membawa mereka dari keadaan mereka sekarang ketujuan yang telah ditetapkan. Bahi sebagian siswa langkah-langkah itu mungkin terlalu besar, untuk sebagian lagi mungkin terlalu kecil. Ubahlah langkah-langkah itu sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
4. Berilah umpan balik selama pelajaran berlangsung. Perlu diingat, makin baru materi pelajaran, makin banyak umpan balik dibutuhkan para siswa.
2.2. Teori Belajar Sosial
Teori belajar social menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang, tidak random,lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya. Suatu perspektif belajar social menganalisis hubungan kontinu antara variabel-variabel linhkungan ciri-ciri pribadi, dan perilaku terbuka dan tertutup seseorang. Perspektif ini menyediakan interprestasi-interprestasi tentang bagaimana terjadi belajar social, dan bagaimana kita mengatur perilaku kita sendiri. Suatu pembahasan tentang konsep-konsep utama dari teori belajar social akan diberikan dalam bagian berikut.
2.2.1. Pemodelan (Modelling)
Bandura memperhatikan bahwa bahwa penganut-penganut Skinner member penekanan pada efek-efek dari konsekuensi-konsekuensi pada perilaku, dan tidak mengindahkan fenomena pemodelan, yaitu meniru perilaku orang lain, dan pengalaman Vicarious, yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain. Ia merasa bahwa sebagian besar belajar yang dialami manusia tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi, melainkan manusia itu belajar dari suatu model. Guru-guru olahraga mendemonstrasikan loncat tinggi, dan para siswa menirunya. Bandura menyebut ini no-trial learning, sebab para siswa tidak harus melalui proses pembentukan (shapping process), tetapi dapat segera menghasilkan respons yang benar.
2.2.2. Fase Belajar
Menurut Bandura ada empat fase belajar dari model,yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase peproduksi (reproduction phase), dan fase motivasi (motivational phase).
a. Fase perhatian
Fase pertama dalam belajar teori observasional ialah memberikan perhatian pad suatu model. Pada umumnya, para siswa memberikan perhatian pada model-model yang menarik, berhasil, menimbulkan minat dan popular. Inilah sebabnya banyak para siswa meniru pakaian, tata rambut, dan sikap-sikap bintang film misalnya.
Dalam kelas guru akan memperoleh perhatian dari para siswa, dengan menyajikan isyarat-isyarat yang jelas dan menarik (misalnya dengan berkata ”Nah, perhatikan bagaiman Ibu mengatakan jumlah atom oksigen dalam molekul oksigen, dan jumlah molekul oksigen yang bereaksi”. Perhatikan siswa juga akan diperoleh dengan menggunakan hal-hal yang baru, aneh, atau tak terduga, dan dengan memotivasi para siswa agar menaruh perhatian (misalnya dengan berkata, “dengarkan baik-baik, ini akan muncul dalam ujian minggu depan”).
b. Fase Retensi
Belajar observasional terjadi berdasarkan kontiguitas. Dua kejadian contiguous yang diperlukan ialah perhatian pada penampilan model dan penyajian simbolik dari penampilan itu dalam memori jangka panjang (1977 :29)
Observes who code modelled activities into either words, concise labels, or vivid imagery learn abd retain behaviour better than those who simply observe or are mentally preoccupled with other matters while watching”
Dari apa yang dikemukakan oleh oleh bandura ini terlihat betapa pentingnya peranan kata-kata, nama-nama, atau bayangan yang kuat yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang dimodelkan dalam mempelajari dan mengingat perilaku.
Perlu kita ketahui bahwa, materi pelajaran akan lam diingat, bila pengulangan terbuka terjadi. Tetapi pengulangan tidak selalu harus terbuka. Pengulangan tertutup dari perilaku yang dipelajari melalui belajar observasional kerap kali dilakukan oleh para mahasiswa calon guru yang mempersiapkan pelajaran mereka yang pertama. Dari guru pamong atau guru model, mahasiswa itu belajar bagaimana berdiri dimuka kelas, bagaimana memberikan pelajaran pendahuluan, menuliskan konsep-konseo atau kata-kata baru dipapan tulis, memberikan giliran pada siswa-siswa, memberikan rangkuman, dan lain-lainya. Sebelum mahasiswa itu memberikan pelajaranya, dalam pikiranya ia membayangkan pelajaranya, dalam pikiranya ia membayangkan persiapan yang telah dibuatnya. Pengulangan tertutup semacam ini menolong mahasiswa itu mengingat unsur-unsur pokok dari pola perilaku yang harus dikuasai.Pengulangan tertutup ini menolong terbentuknya kesesuaian antara perilaku mahasiswa itu dan perilaku model.
c. Fase Reproduksi
dalam fase ini bayangan (imagery) atau kode-kode simbolik verbal dalam memori membimbing penampilan yang sebenarnaya dari perilaku yang baru diperoleh. Telah ditemukan, bahwa derajat ketelitian yang tertinggi dalam belajar observasional terjadi, bila tindakan terbuka mengikuti pengulangan secara mental (mental rehearsal).
Fase reproduksi mengijinkan modl atau instuktur untuk melihat apakah komponen-komponen suatu urutan perilaku telah dikuasai oleh yang belajar. Ada kalanya hanya sebagian dari suatu urutan perilaku yang diberi kode yang benar dan dimiliki. Misalnya seorang guru mungkin menemukan setelah memodelkan prosedur-prosedur untuk memecahkan persoalan kuadrat, bahwa beberapa siswa hanya dapat memecahkan sebagian dari persamaan itu. Mereka mungkin membutuhkan pertolongan dalam menguasai seluruh urutan untuk memecahkan persamaan kuadrat itu. Kekurangan penampilan hanya dapat diketahui, bila siswa-siswa diminta untuk menampilkan. Itulah sebabnya fase reproduksi diperlukan. Perlu disebut pentingnya arti umpan balik yang bersifat memperbaiki untuk membentuk perilaku yang diinginkan. Sebagian besar dari psikologi operant mempersoalkan reiforsemen dan hukuman, yang telah kita kenal efeknya terhadap perilaku. Tetapi sebagian besar dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh guru tidak berupa reinforsemen maupun hukuman- hanya bersifat informatif. Mengetahui hasil, umpan balik sederhana, mempunyai efek yang kuat terhadap perilaku berikutnya. Bila seorang siswa telah melihat, memberikan kode, dan mengurangi, dan kemudian mencoba menulis huruf besar “A”, mencoba melakukan loncat jauh, atau mencoba menyusun pantun, guru model hendaknya memberikan umpan balik pada siswa-siswa itu. Umpan balik ini dapat ditujukan pada aspek-aspek yang benar dari penampilan, tetapi, yang lebih penting ialah ditujukan pada aspek-aspek yangb salah dari penampilan. Secara cepat member tahu siswa tentang respons-respons yang tidak tepat sebelum berkembang kebiasaan-kebiasaan yang tidak diinginkan, merupakan pelaksanaan pengajaran yang baik. Umpan balik perbaikan semacam ini jangan dianggap sebagai hukuman. Umpan balik sedini mungkin dalam fase reproduksi merupakan suatu variabel penting dalam perkembangan penampilan keterampilan pada yang diajar.
d. Fase Motivasi
Fase terakhir dalam proses belajar observasional ialah fase motivasi. Para siswa akan meniru suatu model, sebab mereka merasa, bahwa dwngan berbuat demikian mereka akan meningkatkan kemungkinan untuk memperoleh reinforsemen.
Dalam kelas, fase motivasi dari belajar observasional kerap kali terdiri atas pujian atau angka untuk penyesuaian dengan model guru. Para siswa memperhatikan model itu, melakukan latihan, dan menampilkanya, sebab mereka mengetahui, bahwa inilah yang disukai guru, dan menyenangkan guru.
2.2.3. Belajar Vicarious
Telah kita ketahui, bahwa sebagian besar dari belajar observasional termotivasi oleh harapan bahwa meniru model dengan baik akan menuju pada reinforsemen. Tetapi ada orang yang belajar dengan melihat orang diberi reinforsemen atau hukuman waktu terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. Inilah yang disebutt dengan “Vicarious”.
Guru-guru dalam kelas selalu mengunakan prinsip belajar vicarious. Bila seorang murid berkelakuan tidak baik, dan memuji mereka karena pekerjaan mereka yang baik itu. Anak yang nakal itu melihat, bahwa bekerja memperoleh reinforsemen, karena itu ia pun kembali bekerja.
2.2.4. Pengaturan-sendiri
Konsep penting lainya dalam belajar observasional ialah pengaturan sendiri atau “self-regulation”. Bandura berhipotesis, bahwa manusia mengawasi perilakunya sendiri, mempertimbangkan (judge) perilaku itu terhadap criteria yang disusunya sendiri, dan kemudian memberi reinforsemen atau hukuman pada dirinya sendiri. Kita semua mengetahui, bila kurang dari pada yang sebenarnya. Untuk dapat membuat pertimbangan-pertimbangan (judgments) ini kita harus mempunyai harapan tentang penampilan kita sendiri. Seorang siswa mungkin sudah merasa senang sekali memperoleh 90% betul dalam situ tes, tetapi anak yang lain mungkin sangat kecewa.
Yang menjadi pertanyaan ialah , dimana kita memperoleh kriteri yang kita gunakan untuk mempertimbangkan penampilan kita? Kadang-kadang pertimbangan ini timbul sendiri seperti seorang pelukis, penulis, atau seorang guru bekerja berulang kali untuk memperoleh sebuah lukisan, karangan, atau suatu pelajaran yang baik. Tetapi teori belajar social mengemukakan, bahwa sebagian besar dari criteria ya ng kita miliki untuk penampilan kita, kita pelajari, sperti banyak hal-hal lain, dari model-model dalam dunia social kita. Kita belajar banyak dengan dihadapkan pada model-model. Bila kita memperhatikan perilaku model, dan menciptakan kode-kode imagery bagi apa yang telah kita amati, kita akan belajar dari model itu. Baik pengulangan terbuka maupun pengulangan tertutup menolong kita untuk dapat memiliki perilaku baru yang kita pelajari. Pada suatu saat kita harus mencoba mereproduksi perilaku model itu. Umpan balik untuk memperbaiki, diberikan jauh sebelum fase reproduksi belajar dari model-model, mempunyai efek yang kuat dari perilaku. Reinforsemen dan hukuman yang ditimbulkan sendiri secara langsung dan dialami secara vicarious, menentukan sejauh mana perilaku yang baru itu akan ditampilkan. Dalam pandangan belajar social, belajar dan penampilan adalah dua fenomena yang berbeda.
Respons-respons kognitif kita terhadap perilaku kita sendiri mengizinkan kita untuk mengatur perilaku kita sendiri. Dengan mengamati, kita mengumpulkan data tentang renpons-respons kita. Melalui standar-standar penampilan yang sudah terinternalisasi, kerap kali dipelajari melalui observasi, kita pertimbangkan perilaku kita. Dengan member hadiah atau menghukum kita sendiri, kita dapat mengendalikan perilaku kita secara efektif. Kita tidak perlu dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan lingkungan atau keinginan-keinginan yang datang dari dalam. Ketika dapat belajar menjadi manusia social yang berkpribadian. Dengan menerapkan gagasan-gagasan dari teori belajar social pada diri kita sendiri, kita dapat menjadi guru dan siswa yang lebih baik.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Teori belajar sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional. Teori ini dikembangkan oleh Albert bandura (1966). Teori ini menerima sebagian besar prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, teteapi memberikan lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam teori belajar sosial kita belajar dari orang lain. Melalui observasi tentang dunia social kita, melalui interprestasi kognitif dari dunia itu, banyak sekali informasi dan penampilan-penampilan keahlian yang kompleks dapat dipelajari.
Dalam pandangan belajar social “manusia itu tidak dididorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam, dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan” (bandura,1977 :27).
3.2. Saran
Diharapkan dalam proses belajar mengaajar agar menerapkan gagasan-gagasan dari teori belajar social pada diri kita sendiri, karena dengan itu, kita dapat menjadi guru dan siswa yang lebih baik. dalam teori belajar sosial kita belajar dari orang lain. Oleh karena itu kita harus belajar banyak dari penampilan-penampilan yang kompleks dari orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dahar Wilis Ratna. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta, Erlangga
Hamalik Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara
Langganan:
Postingan (Atom)
it`s me







